Mendengar
Yogyakarta kita langsung tertuju pada tujuan wisata seperti Malioboro,
Kraton, makanan seperti bakpia dan gudeg, serta pantainya yang terkenal
yakni Parangtritis. Anehnya, selama saya 4 tahun kuliah di kota
pendidikan tersebut saya tidak pernah menginjakkan kaki ke Parangtritis.
Loh???
Ada
tempat lain yang membuat hati saya tertambat sampai mengalahkan salah
satu legenda termasyur di Yogyakarta itu. Saat sedang liburan semester,
saya yang saat ini sudah bekerja di Jakarta diajak oleh sepupu saya ke
Pantai Siung. Kala itu, memang saya sedang hunting daerah
tujuan wisata yang belum terlalu popular. Sampai akhirnya saya diajak
Lino, sepupu saya itu, ke pantai yang terletak di sebuah wilayah
terpencil di Kabupaten Gunung Kidul, tepatnya sebelah selatan Kecamatan
Tepus.
Belum lama ini
saya berkesempatan menikmati kembali eksotisme alam yang masih perawan
tersebut. Tidak terlalu mudah memang untuk sampai ke sana. Dengan jarak
sekitar 70 km dari kota Yogyakarta, saya tempuh Pantai Siung dalam 2,5 jam dengan menggunakan sepeda motor.
Bukan tanpa
pertimbangan saya menggunakan kendaraan pribadi. Saya sebagaimana
mayoritas wisatawan lain, lebih memilih berkendaraan pribadi karena
kendaraan umum masih jarang menjangkau Pantai Siung. Colt atau bis dari
kota Wonosari biasanya hanya sampai ke wilayah Tepus, itupun jumlahnya
jarang.
Ada
beberapa pilihan jalur untuk sampai ke obyek wisata ini. Ada 2 jalur
yang pernah saya tempuh, pertama jalur Yogyakarta – Wonosari. Dari situ
masuk ke jalan menuju Pantai Baron. Di kawasan ini kita akan melewati
Pantai Baron, Pantai Kukup, Pantai Kerakal dan Pantai Sundak. Untuk
sampai ke Pantai Siung kita masih melanjutkan perjalanan ke arah Tepus.
Infrastruktur jalan di jalur ini sangat bagus.
Jalur kedua,
saya dari Yogyakarta menuju arah Imogiri. Dari sana, kita mengambil
jalan menuju Gunung Kidul. Jalur ini, menurut saya memiliki tantangan
yang lebih berat karena banyak jalan yang berlubang. Jalur yang lain
adalah melewati jalur Wonogiri lalu baru ke Gunung Kidul. Saya tidak
merekomendasikan jalur ini karena terlalu jauh bagi kita yang berangkat
dari Yogyakarta.
Secara umum
perjalanan menuju Pantai Siung cukup menantang. Jalur mendaki dengan
kelokan-kelokan menjadi konsekuensi dari jalur perbukitan. Oleh
karenanya stamina fisik yang prima dan performa kendaraan yang baik
menjadi modal utama untuk bisa menjangkau pantai ini.
Setengah perjalanan pertama kita masih menikmati hamparan sawah nan subur. Namun
untuk selanjutnya jalan dikelilingi perbukitan kapur dan hamparan bukit
bertanah merah. Penduduk sekitar melukis bukit-bukit dengan pepohonan
jati yang waktu itu sedang meranggas serta puluhan jenis palawija bagai
oase di tengah terik mentari.
Menurut saya,
di sinilah letak nilai lebih kabupaten Gunung Kidul, walaupun terkenal
sebagai daerah tandus dengan musim keringnya yang panjang namun tidak
lantas menjadikan kawasan ini tanpa daya tarik. Batu-batu yang menghalau
pertumbuhan tanaman disusun rapi bak pematang, mempersiapkan tempat
yang ideal bagi pohon ubi kayu tumbuh dan berkembang.
Sempat Meredup
Beberapa teman
saya selalu mengeluhkan perjalanan yang panjang dan melelahkan untuk
sampai ke Pantai Siung. Tetapi, semua keluhan tersebut langsung menguap
setelah sampai di tempat parkir Pantai Siung. Mata berbinar, senyum
mengembang dan semangat membara terjadi begitu saja. Benar kata pepatah,
“bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.”
Saya disambut oleh gempuran ombak menerpa gugusan karang. Langit
biru jam 14.00 memantul di permukaan laut. Hamparan pasir putih dengan
butiran yang besar bak Pantai Gili Trawangan Lombok menjadi obat
kepenatan bekerja di Ibu Kota. Lingkungan yang bersih menjadi bukti
pantai ini terjaga oleh prilaku tidak bertanggungjawab. Setelah memarkir
motor saya merebahkan diri sejenak di rumah kayu yang ada beberapa di
bibir pantai.
Satu pesona
yang menonjol dari Pantai Siung adalah batu karangnya. Karang-karang
yang berukuran raksasa di sebelah barat dan timur pantai memiliki peran
penting, tak cuma menjadi penambah keindahan dan pembatas dengan pantai
lain. Karang itu juga yang menjadi dasar penamaan pantai, saksi kejayaan
wilayah pantai di masa lampau dan pesona yang membuat pantai ini
semakin dikenal, setidaknya di wilayah Asia.
Menurut laporan
reportase Yogyes, batu karang yang menjadi dasar penamaan pantai ini
berlokasi agak menjorok ke lautan. Nama pantai diambil dari bentuk batu
karang yang menurut Wastoyo, seorang sesepuh setempat, menyerupai gigi
kera atau Siung Wanara. Hingga kini, batu karang ini masih bisa
dinikmati keindahannya, berpadu dengan ombak besar yang kadang
menerpanya, hingga celah-celahnya disusuri oleh air laut yang mengalir
perlahan, menyajikan sebuah pemandangan dramatis.
Karang gigi
kera yang hingga kini masih tahan dari gerusan ombak lautan ini turut
menjadi saksi kejayaan wilayah Siung di masa lalu. Menurut cerita
Wastoyo, wilayah Siung pada masa para wali menjadi salah satu pusat
perdagangan di wilayah Gunung Kidul. Tak jauh dari pantai, tepatnya di
wilayah Winangun, berdiri sebuah pasar. Di tempat ini pula, berdiam Nyai
Kami dan Nyai Podi, istri abdi dalem Kraton Yogyakarta dan Surakarta.
Sebagian besar
warga Siung saat itu berprofesi sebagai petani garam. Mereka
mengandalkan air laut dan kekayaan garamnya sebagai sumber penghidupan.
Garam yang dihasilkan oleh warga Siung inilah yang saat itu menjadi
barang dagangan utama di pasar Winangun. Meski kaya beragam jenis ikan,
tak banyak warga yang berani melaut saat itu. Umumnya, mereka hanya
mencari ikan di tepian.
Keadaan
berangsur sepi ketika pasar Winangun, menurut penuturan Wastoyo,
diboyong ke Yogyakarta. Pasar pindahan dari Winangun ini konon di
Yogyakarta dinamai Jowinangun, singkatan dari Jobo Winangun atau di luar
wilayah Winangun. Warga setempat kehilangan mata pencaharian dan tak
banyak lagi orang yang datang ke wilayah ini. Tidak jelas usaha apa yang
ditempuh penduduk setempat untuk bertahan hidup.
250 Jalur Pemancatan
Suasanya lesu
tersebut mulai bangkit sekitar tahun 1989. Saat itu ada grup pecinta
alam dari Jepang mulai memanfaatkan tebing-tebing karang yang berada di
sebelah barat pantai sebagai arena panjat tebing. Kemudian, pada era
90-an, pantai Siung menjadi ajang kompetisi Asian Climbing Gathering,
dengan demikian lambat laun popularitas Pantai Siung mulai pulih lagi. Berdasarkan
catatan Yogyes, sampai saat ini tidak kurang ada 250 jalur pemanjatan
di Pantai Siung, memfasilitasi penggemar olah raga panjat tebing.
Fasilitas lain juga mendukung kegiatan panjat tebing adalah ground camp yang berada di sebelah timur pantai. Di
tempat ini, tenda-tenda bisa didirikan dan acara api unggun bisa
digelar untuk melewatkan malam. Syarat menggunakannya hanya satu, tidak
merusak lingkungan dan mengganggu habitat penyu, seperti tertulis dalam
sebuah papan peringatan yang terdapat di ground camp yang juga bisa
digunakan bagi yang sekedar ingin bermalam.
Tak jauh dari ground camp, terdapat sebuah rumah panggung kayu yang bisa dimanfaatkan sebagai base camp, sebuah pilihan selain mendirikan tenda. Ukuran base camp cukup
besar, cukup untuk 10 - 15 orang. Bentuk rumah panggung membuat mata
semakin leluasa menikmati keeksotikan pantai. Cukup dengan berbicara
pada warga setempat, mungkin dengan disertai beberapa rupiah, base camp
ini sudah bisa digunakan untuk bermalam.
Saat malam atau
kala sepi pengunjung, sekelompok kera ekor panjang akan turun dari
puncak tebing karang menuju pantai. Kera ekor panjang yang kini makin
langka masih banyak dijumpai di pantai ini. Keberadaan kera ekor panjang
ini mungkin juga menjadi salah satu alasan mengapa batu karang yang
menjadi dasar penamaan dipadankan bentuknya dengan gigi kera, bukan
jenis hewan lainnya.
Wastoyo mengungkapkan, berdasarkan penuturan para winasih (orang-orang yang mampu membaca masa depan), Pantai Siung akan rejomulyo atau kembali kejayaannya dalam waktu yang tak lama lagi. Semakin banyaknya pengunjung dan popularitasnya sebagai arena panjat tebing menjadi salah satu pertanda bahwa pantai ini sedang menuju kejayaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar