Ketegangan mulai merasuk di hari kedua
pertemuan internasional. Suasana Bali yang begitu selaras dengan apa
yang selama ini saya dengar tidak mampu membuat rileks. Di saat jadwal
longgar saya putuskan untuk melompat sejenak ke Gili Trawangan, Lombok.
Kata orang gili atau pulau ini sangat eksotis dan tidak kalah dengan
kemolekan Bali, tetangga dekat pulau ini.
Ada banyak pilihan untuk sampai ke sana.
Karena saya sedang berada di Kuta, shuttle bus menjadi transportasi
alternatif yang pas dengan kantong. Hanya dengan Rp. 350 ribu saya
sampai ke tujuan. Saya berangkat jam 06.30 dari Kuta dengan mobil L300
langsung menuju Pelabuhan Padangbai, lama perjalanan hanya 1 jam.
Setelah menunggu beberapa saat sekitar jam
11 siang, saya menyeberang ke Pelabuhan Lembar Lombok dengan menggunakan
kapal feri, tanpa membayar lagi. Perjalanan di kapal yang memakan waktu
6 jam menjadi pengalaman pertama bagi saya. Tapi tidak apalah, deburan
ombak yang memantulkan warna biru langit dengan gugusan pulau menjadi
obat bosan yang ampuh.
Setiba di Lembar, saya bersama 5 wisatawan
asing sudah ditunggu oleh pengelola shuttle bus. Tidak menunggu lama,
kami sudah meluncur menuju Pelabuhan Pemenang dengan kembali menggunakan
mobil L300. Selama 2 jam perjalanan saya mulai menikmati alam Lombok
yang masih asri. Hamparan sawah membentang dengan gunung menjadi
latarnya. Puluhan cidomo, alat transportasi tradisional seperti andong,
berpapasan dengan mobil kami. Hatipun mulai luruh, otot meregang lentur.
Perjalanan terakhir menuju Gili Trawangan
adalah dengan menumpang perahu bersama penduduk setempat di Pelabuhan
Bangsal, Pemenang. Umumnya, perahu dari gili berisi orang tapi untuk
sebaliknya penuh dengan barang-barang kebutuhan sehari-hari. Jam 16.00
kami menuju gili bersama ratusan telur ayam, kasur, sayur, pepaya dan
masih banyak barang kebutuhan lain selama 1 jam karena muatannya sangat
banyak.
Senyatanya Gili Trawangan hanya salah satu
tujuan wisata di Lombok yang sangat indah. Dan nyatanya pula gili ini
hanyalah salah satu dari tiga gili. Selain Trawangan masih ada Gili Meno
dan Gili Air yang juga diminati wisatawan. Trawangan memiliki panjang 3
km yang dihuni sekitar 800 jiwa.
Transportasi Lain
Adakah pilihan transportasi lain menuju Gili
Trawangan? Kalau Anda beranjak dari Terminal Bus Mandalika, Mataram,
ibu kota NTB, Anda bisa menumpang angkutan umum menuju Lombok Utara,
lalu turun di Pelabuhan Bangsal, Desa Pemenang-pintu masuk menuju
pulau-pulau itu. Ongkos dari Mandalika ke Bangsal sebesar Rp 15.000 per
orang.
Memang ada angkutan umum jurusan Lombok
Utara, yang mengetem di timur Bandara Selaparang, dengan ongkos lebih
murah, Rp 10.000 per orang, sampai Pelabuhan Bangsal yang ditempuh
sekitar 40 menit dari Mataram.
Sesampainya di desa Pemenang, tepatnya di
Pelabuhan Bangsal, maka para wisatawan yang hendak ketiga gili dapat
menumpang boat- boat yang ada. Lama perjalanan menuju pulau-pulau kecil
tersebut hanya sekitar 20 menit saja.
Di Bangsal sudah menunggu boat angkutan umum
penyeberangan ke tiga gili. Harga tiket yang dibeli di kantor koperasi
pengelola angkutan itu tergolong murah, yakni Rp 10.000 per orang untuk
jurusan Gili Trawangan, Rp 9.000 ke Gili Meno, dan Rp 8.000 ke Gili Air.
Maksimal terisi 25 penumpang. Boat berlayar dari Bangsal ke Trawangan
memerlukan waktu sekitar 45 menit, ke Meno 30 menit dan ke Air 20 menit.
Kalau enggan berdesak-desakan, ada yang bisa
dicarter, tentu tarifnya lebih mahal. Tarif sekali jalan
Bangsal-Trawangan Rp 185.000, Meno Rp 165.000, dan ke Air Rp 150.000.
Andaikan tidak berniat bermalam, bolehlah mencarter boat seharga Rp
450.000 untuk menyinggahi tiga gili itu barang sebentar.
Perjalanan pun bisa ditempuh dari obyek
wisata Senggigi dengan mencarter boat berkapasitas dua-empat orang yang
tarifnya Rp 350.000, sedangkan yang kapasitasnya 10 orang harga sewanya
Rp 550.000 pergi-pulang. Perjalanan pergi rute Senggigi-Trawangan
sekitar 60 menit, atau lebih singkat ketimbang perjalanan pulang rute
Trawangan-Senggigi yang mencapai 1,5 jam karena boat melawan arus laut.
Sejalan dengan gencarnya pariwisata tiga
gili ini, banyak kapal cepat yang melakukan penyeberangan langsung dari
Bali, yaitu dari Padangbai dan Nusa Lembongan yang ongkosnya Rp
450.000-Rp 550.000 per orang, dengan lama perjalanan sekitar dua jam.
Pulau Pesta
Pariwisata Lombok terus bergeliat berjajar
dengan Bali yang tenar duluan. Kini daerah yang menjadi bagian Nusa
Tenggara Barat tersebut menjadi alternatif daerah tujuan wisata di
samping Bali. Hari demi hari semakin banyak wisatawan domestik dan asing
menuju ke sana sejalan dengan semakin baik dan lengkapnya transportasi
serta infrastrukturnya.
Lokasi pulau kecil ini lebih natural,
suasananya sunyi senyap, ditumbuhi pohon-pohon kelapa tinggi dan tanaman
perdu. Di antara ketiga gili tersebut, Trawangan memiliki fasilitas
untuk wisatawan yang paling beragam. Bagian paling padat penduduk adalah
sebelah timur pulau ini yang oleh penduduk setempat dinamakan “Depan.”
Di bagian depan ini, tidak ada malam yang
dilewati tanpa pesta. Lampu berbinar-binar dengan hentaman musik membuat
pulau di tengah lautan ini seperti kunang-kunang. Varian hunian pun
sangat beragam, mulai dari Rp. 250 ribu sampai Rp. 8 juta untuk semalam
saja. Soal makanan tidak usah ditanya, dari mulai tradisional sampai
internasional semua ada. Seandainya kehabisan uangpun, fasilitas ATM
sudah ada di pulau ini. Semua fasilitas bak di kota daratan, tapi yang
membedakan adalah sensasi hidup nikmat di pulau terpencil, jauh dari
rutinitas harian.
Bagaimana dengan daerah “belakang”? Ketika
bulan surut, kehidupan di daerah depan ikut surut. Para wisatawan
memilih untuk bergerak ke belakang. Semakin sore, daerah yang sebenarnya
lebih sepi penghuni ternyata semakin menyemut. Target mereka adalah
memanjakan hati dengan mencerap aura sinar matahari terbenam. Dentuman
musik dari 5 speaker besar di sore itu, seakan mengundang penghuni pulau
untuk bersiap menyambut pesta di malam hari. Tidak hanya itu, di daerah
belakang ini juga ada tempat penangkaran penyu.
Entahlah, pembagian daerah “depan” dan
“belakang” ini disengaja atau tidak. Yang jelas, sepanjang hari tidak
ada waktu hilang di pulau itu. Maka tidak mengherankan, ribuan orang
bisa datang dan pergi tiap harinya. Terutama pada Bulan Agustus di mana
wisatawan asing menghabiskan liburan musim panasnya di pulau ini.
Aktivitas yang populer dilakukan oleh para
wisatawan di Trawangan adalah scuba diving (dengan sertifikasi PADI),
snorkeling (di pantai sebelah timur laut), bermain kayak dan
berselancar. Ada juga beberapa tempat di mana para wisatawan bisa
belajar berkuda mengelilingi pulau.
Cidomo
Hal menarik lain yang dapat kita nikmati
adalah tidak terdapat kendaraan bermotor. Sarana transportasi yang lazim
adalah sepeda yang disewakan oleh masyarakat setempat untuk para
wisatawan dan cidomo. Tidak ada kendaraan bermotor yang melintas di
Trawangan, juga di dua pulau lain, Meno dan Air.
Menurut Ido (20), pengendara Cidomo yang
saya temui, penduduk setempat melarang kendaraan bermotor karena ingin
menjaga pulau dari bahaya polusi. Selain itu, tentunya, menjamin
keberlangsungan matapencarian penarik cidomo. “Kalau ada motor, pastinya
tidak akan memilih cidomo,” ujarnya.
Kuda-kuda yang ada di Trawangan, jelas Ido,
merupakan kuda liar asal Sumba. Dari sana, kuda-kuda ini dibawa ke suatu
tempat di Lombok untuk dijinakkan. Setelah itu baru dibawa dengan
perahu ke Gili Trawangan.
Di Trawangan, ada 32 buah cidomo milik
koperasi yang beroperasi. Penghasilan rata-rata penarik cidomo Rp 2 juta
per hari. Tarif yang dikenakan kepada wisatawan sekitar Rp. 50 ribu -
Rp30 ribu. Kalau kita mau keliling pulau sembari foto-foto kita bisa
mengeluarkan Rp. 150ribu - Rp. 200 ribu.
“Susahnya kalau pas Agustus. Cidomo tidak bisa jalan karena jalanan penuh dengan wisatawan yang jalan kaki,” kata Ido.
Cidomo atau kadang disebut Cimodok adalah
alat transportasi tenaga kuda khas pulau Lombok. Cidomo merupakan
singkatan dari cikar atau dokar mobil. Disebut demikian karena cidomo
tidak memakai roda kayu seperti dokar atau delman, tapi malah
menggunakan roda mobil bekas.
Pulau yang Aman
Lebih lanjut Ido mengisahkan bahwa di pulau
tempat ia lahir ini hampir tidak pernah ada kerampokan atau kemalingan.
Oleh karenanya tidak ada polisi di Trawangan. Faktor ini sangat penting,
karena selain kenyamanan tentu juga keamanan menjadi daya tarik
tersendiri bagi wisatawan.
Saya hanya satu malam di pulau berpenduduk ramah tersebut. Walaupun ada rasa kecewa, tapi rasanya cukup bagi saya mencerap energi untuk kembali menghadapi tugas demi tugas. Perjalanan ke Trawangan menjadikan bagian hidupku berkesan, menerawang masa depan dari seberang pulau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar