Benar saja, tidak lama melewati gardu selamat
datang memasuki kawasan Gua Cerme, hujan turun menderu. Semakin ke atas,
hantaman air dari langit semakin terasa. Saya pun tak kalah kencang memaju
kendaraan sambil berharap hujan reda. Alhasih, setelah sempat kesasar saya
bersama adik dan pacar sampai juga ke tujuan. Tentu dengan pakaian basah.
Kemilau dalam Kegelapan
Gua Cerme terletak di Pegunungaan Sewu, yang
merupakan kawasan karst.
Secara administratif, gua ini terletak di Dusun
Srunggo, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.
Uniknya, pada pertengahan badan gua menjadi batas administratif Kabupaten
Bantul dan Kabupaten Gunung Kidul.
Untuk bisa masuk ke kawasan wisata ini kami harus
membayar retribusi Rp. 2.750 per orang. Tidak seperti kebanyakan gua, Gua Cerme
memiliki pelataran yang sangat luas. Ada banyak jenis pohon tumbuh di sana
termasuk satu pohon beringin. Ada pula sebuah masjid. Menurut cerita masyarakat
sekitar, tata letak kawasan gua ini disusun oleh Sunan Kalija. Dari pelataran
inilah kita bisa menikmati alam Yogyakarta dari ketinggian 300 m dari
ketinggian laut.
Penasaran dengan isi gua, kami memutuskan untuk
menyusurinya. Bagi para wisatawan, wajib hukumnya mengajak pemandu untuk masuk
gua. Selain itu, demi kesalamatan pengelola gua menyediakan helm, senter dan
menyarankan menggunakan alas kaki. Untuk jasa pemandu, dipatok tarif Rp. 30.000
sedangkan untuk sewa helm dan senter masing-masing Rp. 5.000. “Di sini ada 40 pemandu.
Untuk seminggunya ada 12-14 orang. Digilir,” ujar Sartono, sambil memandu kami
sembari memasuki mulut gua.
Gua Cerme termasuk gua horizontal karena terbentuk
dari air bawah tanah. Pesona ornamen-ornamennya terbentuk dari tetesan air yang
mengikis batuan oleh air yang berlangsung sampai ribuan tahun. Hasilnya sangat
mencengangkan kami. Sembari memperhatikan langkah kami dalam genangan air
supaya tidak teraktur batu kapur, kami tak absen mengagumi staklatit yang
menggantung dan stalakmit yang membentuk gunungan.
“Coba lihat itu,” kata Sartono sambil menunjuk
sebuah tiang. Yang dimaksudkannya adalah colloumn, yakni staklatit dan
stalakmit yang telah menyatu, membentuk sebuah tiang dari atap gua sampai ke
dasar gua. Selain itu ada elektit, yakni stalaktit yang bercabang. Beberapa
ornamen tersebut ada yang diberi nama oleh masyarakat sekitar. Misalnya, batu
Lumbung Padi, batu Bulus, batu Kaji, Kayangan, batu Gading, Pelenggungan atau
Paseban, Kayangan, Grojokan Sewu, dan Kraton Panggung.
Lebih lanjut, soal langit-langit, tingginya sangat
bervariasi. Ada kalanya menjulang tinggi ada kalanya kita mesti setengah
merangkak. Perjalanan semakin menantang ketika masuk di bagian gua yang
tingginya sekitar 160 cm. Padahal tinggi air sungai bawah tanahnya 125 cm. Karena
stalaktit berujung tajam, mau tidak mau kami mesti merunduk guna mengamankan
kepala. Suara “jeduk” pun kerap terdengar. Namun demikian ada saatnya, dada
kami terasa begitu lega dan plong ketika sampai di air terjun. Anda bayangkan
sendiri bagaimana indahnya di dalam gua yang gelap dan dingin bisa bermain air
terjun yang deras.
Setelah menyusur gua sepanjang 1,2 Km kami mulai
menangkap ada secercah cahaya dari atas. Entah datangnya dari mana, ada rasa
kebahagiaan kami rasakan. Kalau boleh dibandingkan, seperti berhasil menyalakan
lilin saat listrik mati, atau seperti senangnya ketika listrik hidup di malam
hari. Rasa senang itulah yang berhasil membungkam rasa capai kami. Sukacita
kami pun memberikan reaksi senyum tatkala melihat helm yang kami pakai penuh
dengan goresan stalaktit.
Seperti gua pada umumnya di Indonesia, Gua Cerme
menjadi tempat kramat. 2 hari sebelum kami datang, ada seorang laki-laki dari
Banten selesai bertapa di sana. Selain gua utama yang dinamakan Gua Slamet, ada
3 ceruk di dinding gua yang juga dijadikan tempat bertapa, yaitu Gua Badut, Gua
Ledek, dan Gua Dalang. Gua Badut digunakan untuk bersemedi para komedian. Ledek
untuk para seniwati. Dan Gua Dalang untuk para seniman dalang.
Dari mulut masyarakat sekitar, tertuturlah legenda
asal mula Gua Cerme yang tidak jauh dari rencana pendirian Masjid Demak oleh
Wali Songo. Sekitar awal abad ke-15, gua ini diyakini sebagai tempat Wali Songo
mengajarkan dan menyebarkan agama Islam di Jawa. Itulah mengapa kata “Cerme” dipakai
karena berasal dari kata “ceramah”.
Ceramah tidak hanya menunjuk aktifitas dakwah para
wali, tapi juga di tempat inilah dibicarakan rencana pendirian masjid besar di
Demak, sebuah kota di bagian utara Jawa Tengah. Alhasil, diputuskanlah untuk
mendirikan masjid di Glagah Wangi.
Hal menarik, tata letak Gua Cerme yang
dipertahankan sampai sekarang, mencerminkan seni tata bangunan kota ala Sunan
Kalijaga. Penyebar agama Islam ini selalu menggunakan 4 komponen: yaitu istana
atau pegelaran kraton, alun-alun atau pelataran, 1-2 pohon beringin di
alun-alun dan masjid. Konsep ini ternyata ditemui di kawasan Gua Cerme yang
letaknya di atas perbukitan. Yakni ada pelataran di depan gua yang cukup
lapang, sebuah pohon beringin yang berada di pelataran dan gua sendiri yang
bisa diartikan sebagai keratonnya menghadap ke utara dan membelakangi gunung
atau punggung bukit.
Dalam perkembangannya Gua Cerme sendiri dijadikan
tempat penyelenggaraan upacara adat Perti Dusun. Kata “perti” (memayu, memetri,
memerti) berarti mempercantik, memperindah, dan melestarikan. Upacara adat ini
berangkat dari legenda sejak zaman Hindia Belanda yang mana konon Baginda Raja
Harnaya Rendra dari Kerajaan Giringlaya, sedang sedih karena musibah yang
menimpa rakyatnya. Gejolak alam yang maha dahsyat telah menimbulkan wabah
penyakit, kekeringan, kelaparan di seluruh negeri. Tahun 387 Saka, atas nasehat
punggawa, maka beliau meminta pertolongan pada Resi Hadidari dari Desa Ngandong
Dadapan. Resi ini kemudian menyarankan agar seluruh penduduk desa membersihkan
segala sesuatu dengan teliti pada awal tahun. Setelah itu, keadaan negeri
menjadi membaik.
Berdasar legenda tersebut, masyarakat membuat
upacara keagamaan yang disebut perti dusun, atau sedekah Bumi atau bersih dusun
sebagai persembahan bagi penguasa pertama atau cikal bakal desa tersebut. Namun
juga disebut-sebut berkaitan dengan Para Wali Sanga yang pertama kali memberi
nama Goa Cerme. Maka juga bisa diartikan Perti Dusun sebagai ungkapan rasa
syukur masyarakat yang berprofesi petani atas kesejahteraaan yang telah
diberikan oleh yang Kuasa dan penghormatan terhadap para pendahulunya yang
telah berjasa dalam penyebaran syariah Islam.
Bagaimana Datang ke Sini?
Desa Selopamioro terletak 6 kilometer sebelah
selatan ibukota Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul. Dari Kota Bantul, desa ini
terletak di sebelah timur laut, kurang lebih 15 kilometer, dengan jarak tempuh
kurang dari 40 menit. Sedangkan jarak dari Terminal Giwangan Yogyakarta hanya
21 kilometer.
Bagi Anda yang menggunakan kendaraan pribadi, dari
Yogyakarta bisa melewati Jalan Pramuka. Dari sana terus ke Selatan masuk ke
Jalan Imogiri Timur, melewati Ring Road Selatan. Setelah sampai wilayah Imogiri
kita tinggal mengikuti papan petunjuk yang mengarahkan kita ke Gua Cerme. Kalau
sudah melewati Jembatan Siluk berarti perjalanan kita tidak jauh lagi. Waktu
tempuhnya kurang dari 60 menit.
Seandainya Anda memilih menggunakan kendaraan umum,
itu sama mudahnya dengan naik kendaraan pribadi. Kita tinggal datang ke
Terminal Giwangan, karena di sana sudah ada bus kecil Jurusan
Imogiri-Siluk-Cerme. “Ada 15 bus tersedia. Biayanya Rp. 5.000 atau Rp. 6.000,
nanti turun di bawah, tinggal jalan kaki sedikit. Tapi kalau nyarter bisa
diantar sampai ke sini,” terang Sartono lagi.
Di sekitar Gua Cerme ada banyak tempat wisata.
Tentunya amat sayang kalau kita datang ke Yogyakarta hanya sedikit tempat yang
bisa kita nikmati. Maka ada baiknya memperhatikan tips ini. Datanglah ke Gua
Cerme menjelang siang. Ketika lewat tengah hari, sebaiknya kita meninggalkan
tempat ini menuju ke Pantai Parangtritis yang hanya berjarak 45 menit.
Diharapkan jam 15.00 sudah sampai ke pantai sehingga tidak terlalu panas.
Bermain dan berenang sambil menanti matahari terbenam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar