![]() |
| Rumah singgah Bung Karno dan Bung Hatta di Rengasdengklok |
“Maaf, Pak. Kamar Bung Karno belum bisa dimasukin,”
kata Djiaw
Hoy
Lin, saat kami baru datang. Puteri Djiauw Kie Song itu memberi isyarat bahwa ada “orang pintar” yang sedang bersemedi di
dalam kamar Bapak Proklamator.
Menurut penuturan Lin, rumahnya
yang bersejarah itu senyatanya telah hilang tergerus aliran sungai Citarum yang
alirannya berubah, pada tahun 1957. Rumah yang ada sekarang adalah
rumah baru yang dibangun untuk tempat hunian Djiauw Kie Song dan anak-anak
keturunannya. “Di tempat inilah kami menyimpan benda-benda bersejarah
yang dulu digunakan oleh Bung Karno dan Bung Hatta berunding dengan para pemuda,” tuturnya.
Namun kondisi rumah sekarang pun tampaknya tidak lebih
baik dengan rumah sebelumnya. Karena posisinya yang berada di dataran rendah.
Untuk menjangkau rumah ini pun kami harus melewati jalan yang menurun dan di
beberapa titik terdapat genangan.
“Bagaimanapun juga kami tetap akan menjaga semua peninggalan ini. Karena
sudah menjadi wasiat keluarga kami,” ungkap Lin.
Saat ditanya apakah keluarga berniat memperbaiki
rumah, ia dengan nada lirih menyatakan tidak memiliki biaya. Lin bersama
keluarganya hanya mengandalkan warung yang berada di depan rumahnya. Sebenarnya
sudah ada dari Pemda yang mengukur lahan untuk dibuatkan pagar, tapi belum
terealisasi. “Siapa pun yang datang ke sini, kami tidak kenakan tarif, hanya
diminta mengisi daftar tamu saja.”
Kalau ditanya harapan, kata Lin, supaya Pemerintah
baik Pusat maupun Daerah dapat memberi bantuan untuk perawatan rumah. Selain
itu juga minta dibuatkan jalur petunjuk, sehingga memudahkan pengunjung untuk
datang. Yang ada di rumah ini, kamar sebelah kanan meja persembahan adalah kamar
Bung Karno yang di dalamnya ada barang-barang yang pernah dipakai. Sebelah kiri
adalah kamar Bung Hatta. “Ranjang Bung
Karno sudah dibawa ke museum, tapi kalau rancangnya Bung Hatta ini asli.”
Djiaw Hoy Lin sedang menjelaskan riwayat rumahnya yang pernah disinggahi oleh Bung Karno dan Bung Hatta
Peristiwa Rengasdengklok
Rumah Lin masuk dalam pusaran sejarah nasional, karena adanya “Peristiwa Rengasdengklok.” Hal ini bermula saat Jepang menyatakan menyerah tanpa syarat kepada sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945. Berita tentang kekalahan Jepang ini masih dirahasiakan oleh Jepang. Namun demikian para pemimpin pergerakan dan pemuda Indonesia lewat siaran luar negeri telah mengetahuinya pada tanggal 15 Agustus 1945.
Untuk itu para pemuda segera menemui Bung Karno dan Bung Hatta di Pegangsaan Timur No.56 Jakarta dan meminta agar mau memproklamasikan kemerdekaan Indonesia lepas dari pengaruh Jepang. Bung Karno dan Bung Hatta tidak menyetujui dengan alasan bahwa proklamasi perlu dibicarakan dalam rapat PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).
Malam hari tanggal 15 Agustus 1945 diadakan rapat di ruang Laboratorium Mikrobiologi di Pegangsaan Timur yang dihadiri oleh Soekarni, Yusuf Kunto, Syodanco Singgih, dan Chaerul Saleh sebagai pemimpinnya. Darwis dan Wikana menyampaikan hasil rapat, yakni mendesak agar Soekarno-Hatta memutuskan ikatan dengan Jepang. Saat itu, muncul suasana tegang, karena Soekarno-Hatta tidak menyetujuinya. Golongan muda tetap mendesak agar tanggal 16 Agustus 1945 diproklamasikan kemerdekaan, sedangkan golongan tua berpegang teguh perlunya diadakan rapat PPKI.
Di tengah ketegangan itu, pada tanggal 16 Agustus 1945, golongan muda mengadakan rapat di Asrama Baperpi, Jalan Cikini 71 Jakarta. Selesai rapat, diputuskan untuk “menculik” Bung Karno dan Bung Hatta keluar kota agar tidak terkena pengaruh Jepang. Soekarno-Hatta dibawa oleh Soekarni, Yusuf Kunto, dan Syodanco Singgih ke Rangasdengklok. Pada sore harinya, Ahmad Soebarjo memberi jaminan bahwa selambat-lambantnya esok hari tanggal 17 Agustus 1945 Soekarno-Hatta akan memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia, maka Cudanco Subeno (komandan kompi tentara PETA di Rengasdengklok) memperbolehkan Soekarno-Hatta kembali ke Jakarta.
| Kamar tempat Bung Karno istirahat. Tempat tidurnya masih asli |
Wisata
Sejarah
Catatan sejarah telah menunjukkan kepada kita bahwa
rumah Lin merupakan warisan yang tidak ternilai untuk bangsa Indonesia. Kami
ikut bangga, walaupun dengan kondisi rumah dan lingkungan seadanya tapi banyak
pemudi dan pemuda yang berkunjung. Hari itu, di pelataran rumah yang sempit,
berjejer motor yang jumlahnya tidak kurang dari 20 dan 3 mobil.
Bagi para pembaca yang tergugah untuk mendalami
sejarah perjuangan bangsa kita, ada banyak cara untuk ke rumah singgah Bung
Karno dan Bung Hatta. Kalau dari Jakarta, ada beberapa terminal yang bis-nya
melayani langsung ke Karawang, misalnya Terminal Kampung Rambutan, Pasar Rebo
atau Kali Deres. Setelah naik bis, turun di Terminal Bis Tanjung Pura, Karawang. Dari situ tinggal naik angkot jurusan Rengasdengklok.
Bagi yang naik kendaraan pribadi, bisa melewati jalan
tol Jakarta – Cikampek dan keluar di Karawang. Dari sana ikuti petunjuk arah
menuju Terminal Bis Tanjung Pura. Dengan mengikuti jalan utama, setelah sekitar
12,1 kilometer dari terminal, kita
berbelok ke kiri setelah melihat ada papan penunjuk jalan ke arah monumen
Kebulatan Tekad Rengasdengklok.
Jalan
yang rupanya baru dibuat belum terlalu lama itu membujur melewati persawahan
sepanjang 2,2 kilometer sebelum akhirnya sampai ke monumen. Dari situ kita tinggal tanya penduduk setempat di mana letak rumah Bung
Karno. Mudah bukan? Selamat berwisata sejarah…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar