Senin, 20 Mei 2013

Telisik Jejak Rekening Gendut Polri, dari Tahun 2010 sampai Aiptu LS



Penegakkan hukum di Indonesia memang jauh dari harapan. Zaman demokrasi dan keterbukaan publik yang membuat pengawasan publik pada pejabat negara ternyata kalah garang dengan sikap "ndablek" para pejabat yang terkait. "Maka jangan salahkan rakyat kalau anarkis!" begitu selentingan beberapa orang sambil menyeruput kopi di pinggiran jalan.

Salah satu kasus yang cukup hangat, sehangat gelas kopi di sudut warung adalah terbongkarnya (atau dibongkarnya) rekening gendut Aiptu LS. Dengan langkah yang sangat cepat, Bareskrim Polri memproses anggotanya tersebut. Status tersangka pun menjadi berita terakhir hari ini. Sikap sigap ini berbuah sedikit harapan bagi masyarakat. Media pun merangkum harapan itu dalam sebuah judul berita "Bongkar Rekening Gendut Aiptu Labora, Momentum Polri Bersih-bersih" (DetikHot, Senin, 20/05/2013/ 10:46 WIB).

Harapan akan masih adanya hukum yang tidak pandang bulu, sedikit bertambah ketika Aiptu LS langsung diperiksa di Jakarta. Setidaknya logika awam mengatakan bahwa sang tersangka disterilkan dari pihak-pihak yang berkepentingan. Namun apa daya, harapan tinggal harapan, pemeriksaan Aiptu LS dipindahkan ke Papua. Daerah di mana sang bintara tinggi tersebut bertugas selama 27 tahun. Logika awam pun mengatakan, waktu tugas selama itu bagi anggota polisi cukup aneh, dan waktu yang lama untuk membentuk jejaring "bisnis." Lalu, kira-kira apa tujuan pemeriksaan Aiptu LS dipindah ke Papua???

Sudahlah..tidak usah berharap banyak. Tidak usah terlalu membiarkan oksigen masuk sedikit dalam jejaring pembuluh darah kita. Pejabat kita memang terlalu 'ndablek' untuk diberikan masukan, diberikan kritik, diberikan makian, diberikan sederet demo anarkis. Kenapa saya mengatakan hal tersebut?

Karena kasus Aiptu LS bukan sekali ini terjadi. Kasus rekening gendut bukan kali ini saja terjadi. Headline berita yang membubung harapan masyarakat tentang "Saatnya unsur Polri bersih-bersih" bukan kali ini saja terjadi.  

Masih ingat kisah Rekening Gendut Polri? Pertengahan tahun 2010 masyarakat digemparkan oleh laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Tempo pada 29 Juni 2010 melansir perwira polisi yang dicurigai memiliki rekening gendut: Inspektur Jenderal MS dengan kekayaan: Rp 8.553.417.116 dan US$ 59.842 (per 22 Mei 2009); Inspektur Jenderal SYW dengan Kekayaan: Rp 6.535.536.503 (per 25 Agustus 2005); Inspektur Jenderal BG dengan Kekayaan: Rp 4.684.153.542 (per 19 Agustus 2008); Inspektur Jenderal BH dengan kekayaan Rp 2.090.126.258 dan US$ 4.000 (per 24 Maret 2008); Komisaris Jenderal SD dengan kekayaan: Rp 1.587.812.155 (per 2008); dan Inspektur Jenderal BS. 

Atas laporan dan pemberitaan tersebut, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono langsung memerintah Kapolri untuk mengusut tuntas. "Tolong diselesaikan dan dikelola dengan baik. Kalau ada memang yang termasuk di wilayah pelanggaran hukum, tolong diberi sanksi. Kalau tidak, ya jelaskan," ujar Presiden, Senin (5/7/2010) di Kantor Presiden, Jakarta sebagaimana diwartakan Kompas.Com

Bagaimana kisah akhir dari laporan rekening gendut petinggi polri di atas? Pengalaman saya, tidak ada kabarnya lagi tuh. Yang saya ingat, saya sangat sulit membeli majalah Tempo edisi rekening gendut Polri karena menurut pedagang sudah diborong saat matahari pun masih tidur di timur. Semua majalah langsung diangkut menggunakan mobil.

PPATK tidak jeri. Republika pada Jumat 17 Februari 2012 memberitakan bahwa Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK) melaporkan adanya ratusan rekening 'gendut' dengan transaksi mencurigakan. Mabes Polri menyatakan sebagian dari ratusan rekening mencurigakan tersebut telah dilakukan pemeriksaan.

"Sebagian itu sudah ada yang diperiksa karena kan sudah ada data-datanya, penyidik tinggal memanggil pemilik rekening tersebut," kata Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Saud Usman Nasution di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (17/2). Saud menambahkan, pemeriksaan itu dilakukan oleh penyidik Bareskrim Polri. Namun ia enggan menjelaskan hasil pemeriksaan itu.

Saat ditanya apakah dari sebagian dari ratusan pemilik rekening mencurigakan tersebut di antaranya Pati Polri, ia enggan menjawabnya. Ia berkelit pemilik rekening-rekening mencurigakan tersebut dirahasiakan dan tidak dapat dipublikasikan. "Dalam pemeriksaan apakah bisa dipertanggungjawabkan atau tidak. Kalau tidak, maka kita akan memprosesnya dengan ancaman hukuman minimal dua tahun. Tapi kita tidak bisa menjelaskan karena rekening ini dirahasiakan."

Apakah ada kelanjutannya???

Dalam perkembangan selanjutnya, Komisi Pemberantasan Korupsi berhasil membongkar kasus korupsi pengadaan simulator SIM di Korlantas Polri yang menjadikan jenderal polisi bintang dua duduk di kursi terdakwa.

Banyak pihak menyatakan harapannya, supaya kasus ini bisa menjadi pintu masuk KPK membongkar rekening gendut petinggi Polri yang sejak lama digantung. Harapan ini dikuatkan karena KPK cukup bernyali dalam memberantas tindak pidana korupsi sekalipun melibatkan petinggi penegak hukum.

Nah, kalau kita cermati, saat ini ada 2 lembaga penegak hukum sedang mengusut kasus anggota polisi. KPK dengan kasus simulator yang sudah memasuki masa sidang. Dan Polri dengan Aiptu LS yang baru menetapkan status tersangka. Keduanya "dibebankan" harapan masyarakat bahwa ini menjadi momentum untuk membersihkan institusi Polri dari tindak korupsi atau pemanfaatan jabatan untuk memperoleh keuntungan pribadi atau keluarga. Tentu hal ini tidak lepas dari kasus rekening gendut yang telah merebak luas pada tahun 2010.

Jadi, KPK atau Polri kah yang akan memenuhi harapan masyarakat? Atau tidak kedua-duanya?

Minggu, 19 Mei 2013

Jejak Sejarah Sang Proklamator di Rengasdengklok

Rumah singgah Bung Karno dan Bung Hatta di Rengasdengklok
Cuaca telah memberi tanda bahwa perjalanan tidak akan menyenangkan. Dari Jakarta mendung terus menggelanyut sampai ke daerah Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat. Namun, saya dan keluarga tetap membulatkan untuk menapak tilas peristiwa “penculikan” Soekarno – Hatta oleh sekelompok pemuda.

“Maaf, Pak. Kamar Bung Karno belum bisa dimasukin,” kata Djiaw Hoy Lin, saat kami baru datang. Puteri Djiauw Kie Song itu memberi isyarat bahwa ada “orang pintar” yang sedang bersemedi di dalam kamar Bapak Proklamator.

Menurut penuturan Lin, rumahnya yang bersejarah itu senyatanya telah hilang tergerus aliran sungai Citarum yang alirannya berubah, pada tahun 1957. Rumah yang ada sekarang adalah rumah baru yang dibangun untuk tempat hunian Djiauw Kie Song dan anak-anak keturunannya. “Di tempat inilah kami menyimpan benda-benda bersejarah yang dulu digunakan oleh Bung Karno dan Bung Hatta berunding dengan para pemuda,” tuturnya.

Namun kondisi rumah sekarang pun tampaknya tidak lebih baik dengan rumah sebelumnya. Karena posisinya yang berada di dataran rendah. Untuk menjangkau rumah ini pun kami harus melewati jalan yang menurun dan di beberapa titik terdapat genangan.  “Bagaimanapun juga kami tetap akan menjaga semua peninggalan ini. Karena sudah menjadi wasiat keluarga kami,” ungkap Lin.

Saat ditanya apakah keluarga berniat memperbaiki rumah, ia dengan nada lirih menyatakan tidak memiliki biaya. Lin bersama keluarganya hanya mengandalkan warung yang berada di depan rumahnya. Sebenarnya sudah ada dari Pemda yang mengukur lahan untuk dibuatkan pagar, tapi belum terealisasi. “Siapa pun yang datang ke sini, kami tidak kenakan tarif, hanya diminta mengisi daftar tamu saja.”

Kalau ditanya harapan, kata Lin, supaya Pemerintah baik Pusat maupun Daerah dapat memberi bantuan untuk perawatan rumah. Selain itu juga minta dibuatkan jalur petunjuk, sehingga memudahkan pengunjung untuk datang. Yang ada di rumah ini, kamar sebelah kanan meja persembahan adalah kamar Bung Karno yang di dalamnya ada barang-barang yang pernah dipakai. Sebelah kiri adalah kamar Bung Hatta. “Ranjang Bung Karno sudah dibawa ke museum, tapi kalau rancangnya Bung Hatta ini asli.” 

Meja tempat buku tamu dan berang kenangan keluarga bersama Bung Karno





Djiaw Hoy Lin sedang menjelaskan riwayat rumahnya yang pernah disinggahi oleh Bung Karno dan Bung Hatta 

Peristiwa Rengasdengklok
Rumah Lin masuk dalam pusaran sejarah nasional, karena adanya “Peristiwa Rengasdengklok.” Hal ini bermula saat Jepang menyatakan menyerah tanpa syarat kepada sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945. Berita tentang kekalahan Jepang ini masih dirahasiakan oleh Jepang. Namun demikian para pemimpin pergerakan dan pemuda Indonesia lewat siaran luar negeri telah mengetahuinya pada tanggal 15 Agustus 1945.

Untuk itu para pemuda segera menemui Bung Karno dan Bung Hatta di Pegangsaan Timur No.56 Jakarta dan meminta agar mau memproklamasikan kemerdekaan Indonesia lepas dari pengaruh Jepang. Bung Karno dan Bung Hatta tidak menyetujui dengan alasan bahwa proklamasi perlu dibicarakan dalam rapat PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Malam hari tanggal 15 Agustus 1945 diadakan rapat di ruang Laboratorium Mikrobiologi di Pegangsaan Timur yang dihadiri oleh Soekarni, Yusuf Kunto, Syodanco Singgih, dan Chaerul Saleh sebagai pemimpinnya. Darwis dan Wikana menyampaikan hasil rapat, yakni mendesak agar Soekarno-Hatta memutuskan ikatan dengan Jepang. Saat itu, muncul suasana tegang, karena Soekarno-Hatta tidak menyetujuinya. Golongan muda tetap mendesak agar tanggal 16 Agustus 1945 diproklamasikan kemerdekaan, sedangkan golongan tua berpegang teguh perlunya diadakan rapat PPKI.

Di tengah ketegangan itu, pada tanggal 16 Agustus 1945, golongan muda mengadakan rapat di Asrama Baperpi, Jalan Cikini 71 Jakarta. Selesai rapat, diputuskan untuk “menculik” Bung Karno dan Bung Hatta keluar kota agar tidak terkena pengaruh Jepang. Soekarno-Hatta dibawa oleh Soekarni, Yusuf Kunto, dan Syodanco Singgih ke Rangasdengklok. Pada sore harinya, Ahmad Soebarjo memberi jaminan bahwa selambat-lambantnya esok hari tanggal 17 Agustus 1945 Soekarno-Hatta akan memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia, maka Cudanco Subeno (komandan kompi tentara PETA di Rengasdengklok) memperbolehkan Soekarno-Hatta kembali ke Jakarta.
Kamar tempat Bung Karno istirahat. Tempat tidurnya masih asli

Wisata Sejarah
Catatan sejarah telah menunjukkan kepada kita bahwa rumah Lin merupakan warisan yang tidak ternilai untuk bangsa Indonesia. Kami ikut bangga, walaupun dengan kondisi rumah dan lingkungan seadanya tapi banyak pemudi dan pemuda yang berkunjung. Hari itu, di pelataran rumah yang sempit, berjejer motor yang jumlahnya tidak kurang dari 20 dan 3 mobil.

Bagi para pembaca yang tergugah untuk mendalami sejarah perjuangan bangsa kita, ada banyak cara untuk ke rumah singgah Bung Karno dan Bung Hatta. Kalau dari Jakarta, ada beberapa terminal yang bis-nya melayani langsung ke Karawang, misalnya Terminal Kampung Rambutan, Pasar Rebo atau Kali Deres. Setelah naik bis, turun di Terminal Bis Tanjung Pura, Karawang. Dari situ tinggal naik angkot jurusan Rengasdengklok.

Bagi yang naik kendaraan pribadi, bisa melewati jalan tol Jakarta – Cikampek dan keluar di Karawang. Dari sana ikuti petunjuk arah menuju Terminal Bis Tanjung Pura. Dengan mengikuti jalan utama, setelah sekitar 12,1 kilometer dari terminal, kita berbelok ke kiri setelah melihat ada papan penunjuk jalan ke arah monumen Kebulatan Tekad Rengasdengklok.

Jalan yang rupanya baru dibuat belum terlalu lama itu membujur melewati persawahan sepanjang 2,2 kilometer sebelum akhirnya sampai ke monumen. Dari situ kita tinggal tanya penduduk setempat di mana letak rumah Bung Karno. Mudah bukan? Selamat berwisata sejarah…

Kamis, 16 Mei 2013

Gua Cerme Saksi Pergumulan Tradisi dan Religi

 Memasuki Jalan Parangtritis Yogyakarta, mendung menggelanyut. Semakin ke arah Timur, semakin terasa saja hawa hujan. Lembab. Hembusan angin gunung. Tinggal menunggu saja waktunya. Tapi, motor tetap saya pacu menuju Dusun Srunggo. Di sanalah tempat Gua Cerme berada. 

Benar saja, tidak lama melewati gardu selamat datang memasuki kawasan Gua Cerme, hujan turun menderu. Semakin ke atas, hantaman air dari langit semakin terasa. Saya pun tak kalah kencang memaju kendaraan sambil berharap hujan reda. Alhasih, setelah sempat kesasar saya bersama adik dan pacar sampai juga ke tujuan. Tentu dengan pakaian basah.


  Kemilau dalam Kegelapan

Gua Cerme terletak di Pegunungaan Sewu, yang merupakan kawasan karst.
Secara administratif, gua ini terletak di Dusun Srunggo, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Uniknya, pada pertengahan badan gua menjadi batas administratif Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunung Kidul.

Untuk bisa masuk ke kawasan wisata ini kami harus membayar retribusi Rp. 2.750 per orang. Tidak seperti kebanyakan gua, Gua Cerme memiliki pelataran yang sangat luas. Ada banyak jenis pohon tumbuh di sana termasuk satu pohon beringin. Ada pula sebuah masjid. Menurut cerita masyarakat sekitar, tata letak kawasan gua ini disusun oleh Sunan Kalija. Dari pelataran inilah kita bisa menikmati alam Yogyakarta dari ketinggian 300 m dari ketinggian laut.

Penasaran dengan isi gua, kami memutuskan untuk menyusurinya. Bagi para wisatawan, wajib hukumnya mengajak pemandu untuk masuk gua. Selain itu, demi kesalamatan pengelola gua menyediakan helm, senter dan menyarankan menggunakan alas kaki. Untuk jasa pemandu, dipatok tarif Rp. 30.000 sedangkan untuk sewa helm dan senter masing-masing Rp. 5.000. “Di sini ada 40 pemandu. Untuk seminggunya ada 12-14 orang. Digilir,” ujar Sartono, sambil memandu kami sembari memasuki mulut gua.

Gua Cerme termasuk gua horizontal karena terbentuk dari air bawah tanah. Pesona ornamen-ornamennya terbentuk dari tetesan air yang mengikis batuan oleh air yang berlangsung sampai ribuan tahun. Hasilnya sangat mencengangkan kami. Sembari memperhatikan langkah kami dalam genangan air supaya tidak teraktur batu kapur, kami tak absen mengagumi staklatit yang menggantung dan stalakmit yang membentuk gunungan.

“Coba lihat itu,” kata Sartono sambil menunjuk sebuah tiang. Yang dimaksudkannya adalah colloumn, yakni staklatit dan stalakmit yang telah menyatu, membentuk sebuah tiang dari atap gua sampai ke dasar gua. Selain itu ada elektit, yakni stalaktit yang bercabang. Beberapa ornamen tersebut ada yang diberi nama oleh masyarakat sekitar. Misalnya, batu Lumbung Padi, batu Bulus, batu Kaji, Kayangan, batu Gading, Pelenggungan atau Paseban, Kayangan, Grojokan Sewu, dan Kraton Panggung.

Lebih lanjut, soal langit-langit, tingginya sangat bervariasi. Ada kalanya menjulang tinggi ada kalanya kita mesti setengah merangkak. Perjalanan semakin menantang ketika masuk di bagian gua yang tingginya sekitar 160 cm. Padahal tinggi air sungai bawah tanahnya 125 cm. Karena stalaktit berujung tajam, mau tidak mau kami mesti merunduk guna mengamankan kepala. Suara “jeduk” pun kerap terdengar. Namun demikian ada saatnya, dada kami terasa begitu lega dan plong ketika sampai di air terjun. Anda bayangkan sendiri bagaimana indahnya di dalam gua yang gelap dan dingin bisa bermain air terjun yang deras.

Setelah menyusur gua sepanjang 1,2 Km kami mulai menangkap ada secercah cahaya dari atas. Entah datangnya dari mana, ada rasa kebahagiaan kami rasakan. Kalau boleh dibandingkan, seperti berhasil menyalakan lilin saat listrik mati, atau seperti senangnya ketika listrik hidup di malam hari. Rasa senang itulah yang berhasil membungkam rasa capai kami. Sukacita kami pun memberikan reaksi senyum tatkala melihat helm yang kami pakai penuh dengan goresan stalaktit. 


Asal Kata Cerme

Seperti gua pada umumnya di Indonesia, Gua Cerme menjadi tempat kramat. 2 hari sebelum kami datang, ada seorang laki-laki dari Banten selesai bertapa di sana. Selain gua utama yang dinamakan Gua Slamet, ada 3 ceruk di dinding gua yang juga dijadikan tempat bertapa, yaitu Gua Badut, Gua Ledek, dan Gua Dalang. Gua Badut digunakan untuk bersemedi para komedian. Ledek untuk para seniwati. Dan Gua Dalang untuk para seniman dalang.

Dari mulut masyarakat sekitar, tertuturlah legenda asal mula Gua Cerme yang tidak jauh dari rencana pendirian Masjid Demak oleh Wali Songo. Sekitar awal abad ke-15, gua ini diyakini sebagai tempat Wali Songo mengajarkan dan menyebarkan agama Islam di Jawa. Itulah mengapa kata “Cerme” dipakai karena berasal dari kata “ceramah”.

Ceramah tidak hanya menunjuk aktifitas dakwah para wali, tapi juga di tempat inilah dibicarakan rencana pendirian masjid besar di Demak, sebuah kota di bagian utara Jawa Tengah. Alhasil, diputuskanlah untuk mendirikan masjid di Glagah Wangi.

Hal menarik, tata letak Gua Cerme yang dipertahankan sampai sekarang, mencerminkan seni tata bangunan kota ala Sunan Kalijaga. Penyebar agama Islam ini selalu menggunakan 4 komponen: yaitu istana atau pegelaran kraton, alun-alun atau pelataran, 1-2 pohon beringin di alun-alun dan masjid. Konsep ini ternyata ditemui di kawasan Gua Cerme yang letaknya di atas perbukitan. Yakni ada pelataran di depan gua yang cukup lapang, sebuah pohon beringin yang berada di pelataran dan gua sendiri yang bisa diartikan sebagai keratonnya menghadap ke utara dan membelakangi gunung atau punggung bukit.

Dalam perkembangannya Gua Cerme sendiri dijadikan tempat penyelenggaraan upacara adat Perti Dusun. Kata “perti” (memayu, memetri, memerti) berarti mempercantik, memperindah, dan melestarikan. Upacara adat ini berangkat dari legenda sejak zaman Hindia Belanda yang mana konon Baginda Raja Harnaya Rendra dari Kerajaan Giringlaya, sedang sedih karena musibah yang menimpa rakyatnya. Gejolak alam yang maha dahsyat telah menimbulkan wabah penyakit, kekeringan, kelaparan di seluruh negeri. Tahun 387 Saka, atas nasehat punggawa, maka beliau meminta pertolongan pada Resi Hadidari dari Desa Ngandong Dadapan. Resi ini kemudian menyarankan agar seluruh penduduk desa membersihkan segala sesuatu dengan teliti pada awal tahun. Setelah itu, keadaan negeri menjadi membaik.

Berdasar legenda tersebut, masyarakat membuat upacara keagamaan yang disebut perti dusun, atau sedekah Bumi atau bersih dusun sebagai persembahan bagi penguasa pertama atau cikal bakal desa tersebut. Namun juga disebut-sebut berkaitan dengan Para Wali Sanga yang pertama kali memberi nama Goa Cerme. Maka juga bisa diartikan Perti Dusun sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat yang berprofesi petani atas kesejahteraaan yang telah diberikan oleh yang Kuasa dan penghormatan terhadap para pendahulunya yang telah berjasa dalam penyebaran syariah Islam.


Bagaimana Datang ke Sini?

Desa Selopamioro terletak 6 kilometer sebelah selatan ibukota Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul. Dari Kota Bantul, desa ini terletak di sebelah timur laut, kurang lebih 15 kilometer, dengan jarak tempuh kurang dari 40 menit. Sedangkan jarak dari Terminal Giwangan Yogyakarta hanya 21 kilometer.

Bagi Anda yang menggunakan kendaraan pribadi, dari Yogyakarta bisa melewati Jalan Pramuka. Dari sana terus ke Selatan masuk ke Jalan Imogiri Timur, melewati Ring Road Selatan. Setelah sampai wilayah Imogiri kita tinggal mengikuti papan petunjuk yang mengarahkan kita ke Gua Cerme. Kalau sudah melewati Jembatan Siluk berarti perjalanan kita tidak jauh lagi. Waktu tempuhnya kurang dari 60 menit.

Seandainya Anda memilih menggunakan kendaraan umum, itu sama mudahnya dengan naik kendaraan pribadi. Kita tinggal datang ke Terminal Giwangan, karena di sana sudah ada bus kecil Jurusan Imogiri-Siluk-Cerme. “Ada 15 bus tersedia. Biayanya Rp. 5.000 atau Rp. 6.000, nanti turun di bawah, tinggal jalan kaki sedikit. Tapi kalau nyarter bisa diantar sampai ke sini,” terang Sartono lagi.

Di sekitar Gua Cerme ada banyak tempat wisata. Tentunya amat sayang kalau kita datang ke Yogyakarta hanya sedikit tempat yang bisa kita nikmati. Maka ada baiknya memperhatikan tips ini. Datanglah ke Gua Cerme menjelang siang. Ketika lewat tengah hari, sebaiknya kita meninggalkan tempat ini menuju ke Pantai Parangtritis yang hanya berjarak 45 menit. Diharapkan jam 15.00 sudah sampai ke pantai sehingga tidak terlalu panas. Bermain dan berenang sambil menanti matahari terbenam.