Angin berhembus kencang menghapus rasa panas di kulit, karena terpaan terik mentari. Debu menyeruak tiap kali kaki melangkah di pelataran Benteng Kuto Besak, yang sekaligus menjadi tepian Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan. Memang, sudah beberapa hari itu Palembang mengerontang ditinggal gemercik hujan.
Kami
ingin pergi ke Pulo Kemaro. Sebuah tempat wisata yang cukup tersohor di Bumi
Sriwijaya ini. Dengan dahi mengrenyit menahan panas, kami bertanya kepada
beberapa laki-laki nelayan di bibir sungai tentang keberadaan perahu sewaan.
Perahu
atau penduduk setempat menyebutnya ketek, menjadi transportasi utama untuk
mencapai tempat yang berupa pulau di sebelah timur Kota Palembang atau sekitar
lima kilo meter sebelah hilir Jembatan Ampera itu.
Naik
ketek dengan mesin tempel menjadi bagian perjalan hidup yang tidak terlupakan.
Sejauh ini, kami tidak pernah membayangkan bisa melewati bagian bawah Jembatan
Ampera yang menjadi icon Kota Palembang. Tidak hanya itu, dengan ketek pula
kami menjumpai berbagai aktivitas warga di sepanjang aliran Sungai Musi.
Misalnya, ada yang berniaga dengan kapal-kapal besar, berjumpa dengan warga
yang menambang pasir, aktivitas pelabuhan barang, dan yang menarik adalah
ketika berpapasan dengan perahu cepat. Ombak yang mereka timbulkan membuat
ketek kami berayun-ayun, bahkan sempat melontarkan pantat kami dari sepotong
papan yang menjadi landasan duduk.
Pulo
Kemaro sangat mudah dikenali. Dari kejauhan, setelah melakukan perjalanan 30
menit, di tengah rerimbunan pohon tampak bangunan Pagoda setinggi 9 tingkat
bercat mayoritas merah dan kuning. Dua warna yang lekat dengan budaya Tionghoa.
Kata “kemaro”
sendiri dalam bahasa Indonesia berarti kemarau. Dinamakan Pulo Kemaro atau
Pulau Kemarau karena pulau ini tidak pernah digenangi air walaupun volume air
di sungai Musi sedang meningkat.
Di bagian
depan pulau ada bangunan gedung yang merupakan Klenteng tempat sembahyang umat
Budha. Klenteng yang dibangun sejak 1962 itu awalnya hanya berupa bangunan
Klenteng Soei Goeat Kiong (atau yang lebih dikenal dengan Klenteng Kuan Im).
Bangunan Pagoda berlantai 9 itu baru mulai dibangun tahun 2006. Di depan klenteng
terdapat pula makam Tan Bun An dan Siti Fatimah yang berdampingan. Kisah cinta
mereka berdualah yang menjadi legenda terbentuknya pulau ini.
Sebuah
Legenda
Pada satu
kisah, seorang putri Palembang Siti Fatimah terlibat kisah cinta dengan anak
seorang putra raja di Cina bernama Tan Bun Ann. Tan Bun Ann yang terperdaya
oleh kecantikan sang putri mengajukan niat untuk melamar Siti Fatimah. Ayah
Siti Fatimah, seorang raja di Sriwijaya, mengajukan syarat kepada Tan Bun Ann
untuk menyediakan sembilan guci berisi emas. Keluarga Tan Bun Ann bersedia
menerima syarat itu, maka disediakanlah sembilan guci berisi emas.
Karena
khawatir akan ancaman perompak, tanpa sepengetahuan Tan Bun Ann, keluarganya
menaruh sayur-mayur di atas emas-emas di dalam guci itu. Sesampainya di
Sriwijaya, ketika akan menyerahkan kesembilan guci tersebut Tan Bun Ann
memeriksa isinya. Betapa terkejut dan marahnya dia ketika melihat isi guci
tersebut adalah sayur-mayur. Tanpa memeriksa lebih dahulu, guci-guci tersebut
dilemparkan ke Sungai Musi. Ketika guci-guci tersebut dilemparkan, ada satu
guci yang pecah, sehingga menampakkan kepingan emas yang ada di dalamnya.
Melihat
hal itu, Tan Bun Ann menyesali perbuatannya dan menceburkan diri ke Sungai
Musi. Siti Fatimah pun lalu ikut menceburkan diri sembari berkata “Bila suatu
saat ada tanah yang tumbuh di tepian sungai ini, maka di situlah kuburan
saya!”. Kalimatnya menjadi nyata dengan adanya Pulo Kemaro. Itulah legenda
asal-usul Pulau Kemaro.
Bangunan
yang dipercayai sebagai makam Siti Fatimah bergabung dalam satu komplek
Klenteng Hok Tjing Rio di mana di dalamnya juga terdapat Dewa Bumi (Hok Tek Cin
Sin), dewanya umat Budha. Di makam Siti Fatimah, para penziarah juga dapat
melihat sejauh mana peruntungan yang di dapat di masa depan.
Kehadiran
Klenteng Hok Tjing Rio dengan luas 3,5 hektar itu juga menjadi salah satu jejak
sejarah Cina dalam perkembangan Palembang. Bangunan klenteng terdiri atas
pendopo di tepi Sungai Musi, dua menara tempat pembakaran uang emas, ruang
utama, ruang belakang, dan ruang keramat kuburan pasangan Siti Fatimah dan Tan
Bun An.
Dengan
demikian, bisa dikatakan bahwa Pulau Kemaro menghadirkan dua unsur keyakinan
berbeda namun tetap berjalan berkesinambungan. “Siti Fatimah ini muslim, dan di
dalamnya ada altar persembahan untuk Dewa Bumi yang diyakini oleh umat Budha.
Berdampingannya dua keyakinan dalam satu komplek di Pulau Kemaro ini
membuktikan bahwa bersatunya umat Budha dan Islam membawa keselarasan dalam
kehidupan, karena keyakinan adalah mutlak hubungannya antara manusia dengan
Sang Pencipta. Akulturasi perlu terus dikenang untuk menanamkan semangat
toleransi dan kerja sama bagi generasi baru,” terang Linda, salah satu penjaga
di Pulo Kemaro.
Menurut
saya, Pulo Kemaro yang total wilayahnya 24 hektar ini layak menjadi ikon wisata
budaya dan wisata keagamaan. Tidak hanya untuk kawasan nasional, tetapi juga
internasional. Sekaligus menjadi saksi nyata idealisme Pancasila yang menjadi
landasan Negara Indonesia tercinta.
Setelah
puas berkeliling dan mengabadikan tempat bersejarah ini, kami pun meninggalkan
pulau. Dalam perjalanan pulang, kembali kami menikmati kehidupan sungai yang
sangat dinamis. Dalam hati, saya mengakui bahwa akulturasi yang begitu kuat
dalam legenda Pulo Kemaro merupakan konsekuensi logis dari budaya maritim
bangsa Indonesia yang sudah terkenal sejak zaman nenek moyang.
Budaya ini
pulalah yang membentuk karakter bangsa Indonesia sebagai bangsa yang terbuka
dan tangguh. Terbuka pada perbedaan, dan bahkan menjadikan perbedaan tersebut
menjadi kekayaan untuk maju. (ONE)
Angin
berhembus kencang menghapus rasa panas di kulit, karena terpaan terik
mentari. Debu menyeruak tiap kali kaki melangkah di pelataran Benteng
Kuto Besak, yang sekaligus menjadi tepian Sungai Musi, Palembang,
Sumatera Selatan. Memang, sudah beberapa hari itu Palembang mengerontang
ditinggal gemercik hujan.
Kami ingin pergi ke Pulo Kemaro. Sebuah tempat wisata yang cukup tersohor di Bumi Sriwijaya ini. Dengan dahi mengrenyit menahan panas, kami bertanya kepada beberapa laki-laki nelayan di bibir sungai tentang keberadaan perahu sewaan.
Perahu atau penduduk setempat menyebutnya ketek, menjadi transportasi utama untuk mencapai tempat yang berupa pulau di sebelah timur Kota Palembang atau sekitar lima kilo meter sebelah hilir Jembatan Ampera itu.
Naik ketek dengan mesin tempel menjadi bagian perjalan hidup yang tidak terlupakan. Sejauh ini, kami tidak pernah membayangkan bisa melewati bagian bawah Jembatan Ampera yang menjadi icon Kota Palembang. Tidak hanya itu, dengan ketek pula kami menjumpai berbagai aktivitas warga di sepanjang aliran Sungai Musi. Misalnya, ada yang berniaga dengan kapal-kapal besar, berjumpa dengan warga yang menambang pasir, aktivitas pelabuhan barang, dan yang menarik adalah ketika berpapasan dengan perahu cepat. Ombak yang mereka timbulkan membuat ketek kami berayun-ayun, bahkan sempat melontarkan pantat kami dari sepotong papan yang menjadi landasan duduk.
Pulo Kemaro sangat mudah dikenali. Dari kejauhan, setelah melakukan perjalanan 30 menit, di tengah rerimbunan pohon tampak bangunan Pagoda setinggi 9 tingkat bercat mayoritas merah dan kuning. Dua warna yang lekat dengan budaya Tionghoa.
Kata “kemaro” sendiri dalam bahasa Indonesia berarti kemarau. Dinamakan Pulo Kemaro atau Pulau Kemarau karena pulau ini tidak pernah digenangi air walaupun volume air di sungai Musi sedang meningkat.
Di bagian depan pulau ada bangunan gedung yang merupakan Klenteng tempat sembahyang umat Budha. Klenteng yang dibangun sejak 1962 itu awalnya hanya berupa bangunan Klenteng Soei Goeat Kiong (atau yang lebih dikenal dengan Klenteng Kuan Im). Bangunan Pagoda berlantai 9 itu baru mulai dibangun tahun 2006. Di depan klenteng terdapat pula makam Tan Bun An dan Siti Fatimah yang berdampingan. Kisah cinta mereka berdualah yang menjadi legenda terbentuknya pulau ini.
Sebuah Legenda
Pada satu kisah, seorang putri Palembang Siti Fatimah terlibat kisah cinta dengan anak seorang putra raja di Cina bernama Tan Bun Ann. Tan Bun Ann yang terperdaya oleh kecantikan sang putri mengajukan niat untuk melamar Siti Fatimah. Ayah Siti Fatimah, seorang raja di Sriwijaya, mengajukan syarat kepada Tan Bun Ann untuk menyediakan sembilan guci berisi emas. Keluarga Tan Bun Ann bersedia menerima syarat itu, maka disediakanlah sembilan guci berisi emas.
Karena khawatir akan ancaman perompak, tanpa sepengetahuan Tan Bun Ann, keluarganya menaruh sayur-mayur di atas emas-emas di dalam guci itu. Sesampainya di Sriwijaya, ketika akan menyerahkan kesembilan guci tersebut Tan Bun Ann memeriksa isinya. Betapa terkejut dan marahnya dia ketika melihat isi guci tersebut adalah sayur-mayur. Tanpa memeriksa lebih dahulu, guci-guci tersebut dilemparkan ke Sungai Musi. Ketika guci-guci tersebut dilemparkan, ada satu guci yang pecah, sehingga menampakkan kepingan emas yang ada di dalamnya.
Melihat hal itu, Tan Bun Ann menyesali perbuatannya dan menceburkan diri ke Sungai Musi. Siti Fatimah pun lalu ikut menceburkan diri sembari berkata “Bila suatu saat ada tanah yang tumbuh di tepian sungai ini, maka di situlah kuburan saya!”. Kalimatnya menjadi nyata dengan adanya Pulo Kemaro. Itulah legenda asal-usul Pulau Kemaro.
Bangunan yang dipercayai sebagai makam Siti Fatimah bergabung dalam satu komplek Klenteng Hok Tjing Rio di mana di dalamnya juga terdapat Dewa Bumi (Hok Tek Cin Sin), dewanya umat Budha. Di makam Siti Fatimah, para penziarah juga dapat melihat sejauh mana peruntungan yang di dapat di masa depan.
Kehadiran Klenteng Hok Tjing Rio dengan luas 3,5 hektar itu juga menjadi salah satu jejak sejarah Cina dalam perkembangan Palembang. Bangunan klenteng terdiri atas pendopo di tepi Sungai Musi, dua menara tempat pembakaran uang emas, ruang utama, ruang belakang, dan ruang keramat kuburan pasangan Siti Fatimah dan Tan Bun An.
Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa Pulau Kemaro menghadirkan dua unsur keyakinan berbeda namun tetap berjalan berkesinambungan. “Siti Fatimah ini muslim, dan di dalamnya ada altar persembahan untuk Dewa Bumi yang diyakini oleh umat Budha. Berdampingannya dua keyakinan dalam satu komplek di Pulau Kemaro ini membuktikan bahwa bersatunya umat Budha dan Islam membawa keselarasan dalam kehidupan, karena keyakinan adalah mutlak hubungannya antara manusia dengan Sang Pencipta. Akulturasi perlu terus dikenang untuk menanamkan semangat toleransi dan kerja sama bagi generasi baru,” terang Linda, salah satu penjaga di Pulo Kemaro.
Menurut saya, Pulo Kemaro yang total wilayahnya 24 hektar ini layak menjadi ikon wisata budaya dan wisata keagamaan. Tidak hanya untuk kawasan nasional, tetapi juga internasional. Sekaligus menjadi saksi nyata idealisme Pancasila yang menjadi landasan Negara Indonesia tercinta.
Setelah puas berkeliling dan mengabadikan tempat bersejarah ini, kami pun meninggalkan pulau. Dalam perjalanan pulang, kembali kami menikmati kehidupan sungai yang sangat dinamis. Dalam hati, saya mengakui bahwa akulturasi yang begitu kuat dalam legenda Pulo Kemaro merupakan konsekuensi logis dari budaya maritim bangsa Indonesia yang sudah terkenal sejak zaman nenek moyang. Budaya ini pulalah yang membentuk karakter bangsa Indonesia sebagai bangsa yang terbuka dan tangguh. Terbuka pada perbedaan, dan bahkan menjadikan perbedaan tersebut menjadi kekayaan untuk maju.
- See more at: http://jelajahbumipapua.com/home.php?link=content-detail-tulis&kode=135&jdl=Wisata.ini.Padukan.Akulturasi.dan.Semangat.Maritim#sthash.SlU36nRa.dpuf
Kami ingin pergi ke Pulo Kemaro. Sebuah tempat wisata yang cukup tersohor di Bumi Sriwijaya ini. Dengan dahi mengrenyit menahan panas, kami bertanya kepada beberapa laki-laki nelayan di bibir sungai tentang keberadaan perahu sewaan.
Perahu atau penduduk setempat menyebutnya ketek, menjadi transportasi utama untuk mencapai tempat yang berupa pulau di sebelah timur Kota Palembang atau sekitar lima kilo meter sebelah hilir Jembatan Ampera itu.
Naik ketek dengan mesin tempel menjadi bagian perjalan hidup yang tidak terlupakan. Sejauh ini, kami tidak pernah membayangkan bisa melewati bagian bawah Jembatan Ampera yang menjadi icon Kota Palembang. Tidak hanya itu, dengan ketek pula kami menjumpai berbagai aktivitas warga di sepanjang aliran Sungai Musi. Misalnya, ada yang berniaga dengan kapal-kapal besar, berjumpa dengan warga yang menambang pasir, aktivitas pelabuhan barang, dan yang menarik adalah ketika berpapasan dengan perahu cepat. Ombak yang mereka timbulkan membuat ketek kami berayun-ayun, bahkan sempat melontarkan pantat kami dari sepotong papan yang menjadi landasan duduk.
Pulo Kemaro sangat mudah dikenali. Dari kejauhan, setelah melakukan perjalanan 30 menit, di tengah rerimbunan pohon tampak bangunan Pagoda setinggi 9 tingkat bercat mayoritas merah dan kuning. Dua warna yang lekat dengan budaya Tionghoa.
Kata “kemaro” sendiri dalam bahasa Indonesia berarti kemarau. Dinamakan Pulo Kemaro atau Pulau Kemarau karena pulau ini tidak pernah digenangi air walaupun volume air di sungai Musi sedang meningkat.
Di bagian depan pulau ada bangunan gedung yang merupakan Klenteng tempat sembahyang umat Budha. Klenteng yang dibangun sejak 1962 itu awalnya hanya berupa bangunan Klenteng Soei Goeat Kiong (atau yang lebih dikenal dengan Klenteng Kuan Im). Bangunan Pagoda berlantai 9 itu baru mulai dibangun tahun 2006. Di depan klenteng terdapat pula makam Tan Bun An dan Siti Fatimah yang berdampingan. Kisah cinta mereka berdualah yang menjadi legenda terbentuknya pulau ini.
Sebuah Legenda
Pada satu kisah, seorang putri Palembang Siti Fatimah terlibat kisah cinta dengan anak seorang putra raja di Cina bernama Tan Bun Ann. Tan Bun Ann yang terperdaya oleh kecantikan sang putri mengajukan niat untuk melamar Siti Fatimah. Ayah Siti Fatimah, seorang raja di Sriwijaya, mengajukan syarat kepada Tan Bun Ann untuk menyediakan sembilan guci berisi emas. Keluarga Tan Bun Ann bersedia menerima syarat itu, maka disediakanlah sembilan guci berisi emas.
Karena khawatir akan ancaman perompak, tanpa sepengetahuan Tan Bun Ann, keluarganya menaruh sayur-mayur di atas emas-emas di dalam guci itu. Sesampainya di Sriwijaya, ketika akan menyerahkan kesembilan guci tersebut Tan Bun Ann memeriksa isinya. Betapa terkejut dan marahnya dia ketika melihat isi guci tersebut adalah sayur-mayur. Tanpa memeriksa lebih dahulu, guci-guci tersebut dilemparkan ke Sungai Musi. Ketika guci-guci tersebut dilemparkan, ada satu guci yang pecah, sehingga menampakkan kepingan emas yang ada di dalamnya.
Melihat hal itu, Tan Bun Ann menyesali perbuatannya dan menceburkan diri ke Sungai Musi. Siti Fatimah pun lalu ikut menceburkan diri sembari berkata “Bila suatu saat ada tanah yang tumbuh di tepian sungai ini, maka di situlah kuburan saya!”. Kalimatnya menjadi nyata dengan adanya Pulo Kemaro. Itulah legenda asal-usul Pulau Kemaro.
Bangunan yang dipercayai sebagai makam Siti Fatimah bergabung dalam satu komplek Klenteng Hok Tjing Rio di mana di dalamnya juga terdapat Dewa Bumi (Hok Tek Cin Sin), dewanya umat Budha. Di makam Siti Fatimah, para penziarah juga dapat melihat sejauh mana peruntungan yang di dapat di masa depan.
Kehadiran Klenteng Hok Tjing Rio dengan luas 3,5 hektar itu juga menjadi salah satu jejak sejarah Cina dalam perkembangan Palembang. Bangunan klenteng terdiri atas pendopo di tepi Sungai Musi, dua menara tempat pembakaran uang emas, ruang utama, ruang belakang, dan ruang keramat kuburan pasangan Siti Fatimah dan Tan Bun An.
Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa Pulau Kemaro menghadirkan dua unsur keyakinan berbeda namun tetap berjalan berkesinambungan. “Siti Fatimah ini muslim, dan di dalamnya ada altar persembahan untuk Dewa Bumi yang diyakini oleh umat Budha. Berdampingannya dua keyakinan dalam satu komplek di Pulau Kemaro ini membuktikan bahwa bersatunya umat Budha dan Islam membawa keselarasan dalam kehidupan, karena keyakinan adalah mutlak hubungannya antara manusia dengan Sang Pencipta. Akulturasi perlu terus dikenang untuk menanamkan semangat toleransi dan kerja sama bagi generasi baru,” terang Linda, salah satu penjaga di Pulo Kemaro.
Menurut saya, Pulo Kemaro yang total wilayahnya 24 hektar ini layak menjadi ikon wisata budaya dan wisata keagamaan. Tidak hanya untuk kawasan nasional, tetapi juga internasional. Sekaligus menjadi saksi nyata idealisme Pancasila yang menjadi landasan Negara Indonesia tercinta.
Setelah puas berkeliling dan mengabadikan tempat bersejarah ini, kami pun meninggalkan pulau. Dalam perjalanan pulang, kembali kami menikmati kehidupan sungai yang sangat dinamis. Dalam hati, saya mengakui bahwa akulturasi yang begitu kuat dalam legenda Pulo Kemaro merupakan konsekuensi logis dari budaya maritim bangsa Indonesia yang sudah terkenal sejak zaman nenek moyang. Budaya ini pulalah yang membentuk karakter bangsa Indonesia sebagai bangsa yang terbuka dan tangguh. Terbuka pada perbedaan, dan bahkan menjadikan perbedaan tersebut menjadi kekayaan untuk maju.
- See more at: http://jelajahbumipapua.com/home.php?link=content-detail-tulis&kode=135&jdl=Wisata.ini.Padukan.Akulturasi.dan.Semangat.Maritim#sthash.SlU36nRa.dpuf
Angin
berhembus kencang menghapus rasa panas di kulit, karena terpaan terik
mentari. Debu menyeruak tiap kali kaki melangkah di pelataran Benteng
Kuto Besak, yang sekaligus menjadi tepian Sungai Musi, Palembang,
Sumatera Selatan. Memang, sudah beberapa hari itu Palembang mengerontang
ditinggal gemercik hujan.
Kami ingin pergi ke Pulo Kemaro. Sebuah tempat wisata yang cukup tersohor di Bumi Sriwijaya ini. Dengan dahi mengrenyit menahan panas, kami bertanya kepada beberapa laki-laki nelayan di bibir sungai tentang keberadaan perahu sewaan.
Perahu atau penduduk setempat menyebutnya ketek, menjadi transportasi utama untuk mencapai tempat yang berupa pulau di sebelah timur Kota Palembang atau sekitar lima kilo meter sebelah hilir Jembatan Ampera itu.
Naik ketek dengan mesin tempel menjadi bagian perjalan hidup yang tidak terlupakan. Sejauh ini, kami tidak pernah membayangkan bisa melewati bagian bawah Jembatan Ampera yang menjadi icon Kota Palembang. Tidak hanya itu, dengan ketek pula kami menjumpai berbagai aktivitas warga di sepanjang aliran Sungai Musi. Misalnya, ada yang berniaga dengan kapal-kapal besar, berjumpa dengan warga yang menambang pasir, aktivitas pelabuhan barang, dan yang menarik adalah ketika berpapasan dengan perahu cepat. Ombak yang mereka timbulkan membuat ketek kami berayun-ayun, bahkan sempat melontarkan pantat kami dari sepotong papan yang menjadi landasan duduk.
Pulo Kemaro sangat mudah dikenali. Dari kejauhan, setelah melakukan perjalanan 30 menit, di tengah rerimbunan pohon tampak bangunan Pagoda setinggi 9 tingkat bercat mayoritas merah dan kuning. Dua warna yang lekat dengan budaya Tionghoa.
Kata “kemaro” sendiri dalam bahasa Indonesia berarti kemarau. Dinamakan Pulo Kemaro atau Pulau Kemarau karena pulau ini tidak pernah digenangi air walaupun volume air di sungai Musi sedang meningkat.
Di bagian depan pulau ada bangunan gedung yang merupakan Klenteng tempat sembahyang umat Budha. Klenteng yang dibangun sejak 1962 itu awalnya hanya berupa bangunan Klenteng Soei Goeat Kiong (atau yang lebih dikenal dengan Klenteng Kuan Im). Bangunan Pagoda berlantai 9 itu baru mulai dibangun tahun 2006. Di depan klenteng terdapat pula makam Tan Bun An dan Siti Fatimah yang berdampingan. Kisah cinta mereka berdualah yang menjadi legenda terbentuknya pulau ini.
Sebuah Legenda
Pada satu kisah, seorang putri Palembang Siti Fatimah terlibat kisah cinta dengan anak seorang putra raja di Cina bernama Tan Bun Ann. Tan Bun Ann yang terperdaya oleh kecantikan sang putri mengajukan niat untuk melamar Siti Fatimah. Ayah Siti Fatimah, seorang raja di Sriwijaya, mengajukan syarat kepada Tan Bun Ann untuk menyediakan sembilan guci berisi emas. Keluarga Tan Bun Ann bersedia menerima syarat itu, maka disediakanlah sembilan guci berisi emas.
Karena khawatir akan ancaman perompak, tanpa sepengetahuan Tan Bun Ann, keluarganya menaruh sayur-mayur di atas emas-emas di dalam guci itu. Sesampainya di Sriwijaya, ketika akan menyerahkan kesembilan guci tersebut Tan Bun Ann memeriksa isinya. Betapa terkejut dan marahnya dia ketika melihat isi guci tersebut adalah sayur-mayur. Tanpa memeriksa lebih dahulu, guci-guci tersebut dilemparkan ke Sungai Musi. Ketika guci-guci tersebut dilemparkan, ada satu guci yang pecah, sehingga menampakkan kepingan emas yang ada di dalamnya.
Melihat hal itu, Tan Bun Ann menyesali perbuatannya dan menceburkan diri ke Sungai Musi. Siti Fatimah pun lalu ikut menceburkan diri sembari berkata “Bila suatu saat ada tanah yang tumbuh di tepian sungai ini, maka di situlah kuburan saya!”. Kalimatnya menjadi nyata dengan adanya Pulo Kemaro. Itulah legenda asal-usul Pulau Kemaro.
Bangunan yang dipercayai sebagai makam Siti Fatimah bergabung dalam satu komplek Klenteng Hok Tjing Rio di mana di dalamnya juga terdapat Dewa Bumi (Hok Tek Cin Sin), dewanya umat Budha. Di makam Siti Fatimah, para penziarah juga dapat melihat sejauh mana peruntungan yang di dapat di masa depan.
Kehadiran Klenteng Hok Tjing Rio dengan luas 3,5 hektar itu juga menjadi salah satu jejak sejarah Cina dalam perkembangan Palembang. Bangunan klenteng terdiri atas pendopo di tepi Sungai Musi, dua menara tempat pembakaran uang emas, ruang utama, ruang belakang, dan ruang keramat kuburan pasangan Siti Fatimah dan Tan Bun An.
Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa Pulau Kemaro menghadirkan dua unsur keyakinan berbeda namun tetap berjalan berkesinambungan. “Siti Fatimah ini muslim, dan di dalamnya ada altar persembahan untuk Dewa Bumi yang diyakini oleh umat Budha. Berdampingannya dua keyakinan dalam satu komplek di Pulau Kemaro ini membuktikan bahwa bersatunya umat Budha dan Islam membawa keselarasan dalam kehidupan, karena keyakinan adalah mutlak hubungannya antara manusia dengan Sang Pencipta. Akulturasi perlu terus dikenang untuk menanamkan semangat toleransi dan kerja sama bagi generasi baru,” terang Linda, salah satu penjaga di Pulo Kemaro.
Menurut saya, Pulo Kemaro yang total wilayahnya 24 hektar ini layak menjadi ikon wisata budaya dan wisata keagamaan. Tidak hanya untuk kawasan nasional, tetapi juga internasional. Sekaligus menjadi saksi nyata idealisme Pancasila yang menjadi landasan Negara Indonesia tercinta.
Setelah puas berkeliling dan mengabadikan tempat bersejarah ini, kami pun meninggalkan pulau. Dalam perjalanan pulang, kembali kami menikmati kehidupan sungai yang sangat dinamis. Dalam hati, saya mengakui bahwa akulturasi yang begitu kuat dalam legenda Pulo Kemaro merupakan konsekuensi logis dari budaya maritim bangsa Indonesia yang sudah terkenal sejak zaman nenek moyang. Budaya ini pulalah yang membentuk karakter bangsa Indonesia sebagai bangsa yang terbuka dan tangguh. Terbuka pada perbedaan, dan bahkan menjadikan perbedaan tersebut menjadi kekayaan untuk maju.
- See more at: http://jelajahbumipapua.com/home.php?link=content-detail-tulis&kode=135&jdl=Wisata.ini.Padukan.Akulturasi.dan.Semangat.Maritim#sthash.SlU36nRa.dpuf
Kami ingin pergi ke Pulo Kemaro. Sebuah tempat wisata yang cukup tersohor di Bumi Sriwijaya ini. Dengan dahi mengrenyit menahan panas, kami bertanya kepada beberapa laki-laki nelayan di bibir sungai tentang keberadaan perahu sewaan.
Perahu atau penduduk setempat menyebutnya ketek, menjadi transportasi utama untuk mencapai tempat yang berupa pulau di sebelah timur Kota Palembang atau sekitar lima kilo meter sebelah hilir Jembatan Ampera itu.
Naik ketek dengan mesin tempel menjadi bagian perjalan hidup yang tidak terlupakan. Sejauh ini, kami tidak pernah membayangkan bisa melewati bagian bawah Jembatan Ampera yang menjadi icon Kota Palembang. Tidak hanya itu, dengan ketek pula kami menjumpai berbagai aktivitas warga di sepanjang aliran Sungai Musi. Misalnya, ada yang berniaga dengan kapal-kapal besar, berjumpa dengan warga yang menambang pasir, aktivitas pelabuhan barang, dan yang menarik adalah ketika berpapasan dengan perahu cepat. Ombak yang mereka timbulkan membuat ketek kami berayun-ayun, bahkan sempat melontarkan pantat kami dari sepotong papan yang menjadi landasan duduk.
Pulo Kemaro sangat mudah dikenali. Dari kejauhan, setelah melakukan perjalanan 30 menit, di tengah rerimbunan pohon tampak bangunan Pagoda setinggi 9 tingkat bercat mayoritas merah dan kuning. Dua warna yang lekat dengan budaya Tionghoa.
Kata “kemaro” sendiri dalam bahasa Indonesia berarti kemarau. Dinamakan Pulo Kemaro atau Pulau Kemarau karena pulau ini tidak pernah digenangi air walaupun volume air di sungai Musi sedang meningkat.
Di bagian depan pulau ada bangunan gedung yang merupakan Klenteng tempat sembahyang umat Budha. Klenteng yang dibangun sejak 1962 itu awalnya hanya berupa bangunan Klenteng Soei Goeat Kiong (atau yang lebih dikenal dengan Klenteng Kuan Im). Bangunan Pagoda berlantai 9 itu baru mulai dibangun tahun 2006. Di depan klenteng terdapat pula makam Tan Bun An dan Siti Fatimah yang berdampingan. Kisah cinta mereka berdualah yang menjadi legenda terbentuknya pulau ini.
Sebuah Legenda
Pada satu kisah, seorang putri Palembang Siti Fatimah terlibat kisah cinta dengan anak seorang putra raja di Cina bernama Tan Bun Ann. Tan Bun Ann yang terperdaya oleh kecantikan sang putri mengajukan niat untuk melamar Siti Fatimah. Ayah Siti Fatimah, seorang raja di Sriwijaya, mengajukan syarat kepada Tan Bun Ann untuk menyediakan sembilan guci berisi emas. Keluarga Tan Bun Ann bersedia menerima syarat itu, maka disediakanlah sembilan guci berisi emas.
Karena khawatir akan ancaman perompak, tanpa sepengetahuan Tan Bun Ann, keluarganya menaruh sayur-mayur di atas emas-emas di dalam guci itu. Sesampainya di Sriwijaya, ketika akan menyerahkan kesembilan guci tersebut Tan Bun Ann memeriksa isinya. Betapa terkejut dan marahnya dia ketika melihat isi guci tersebut adalah sayur-mayur. Tanpa memeriksa lebih dahulu, guci-guci tersebut dilemparkan ke Sungai Musi. Ketika guci-guci tersebut dilemparkan, ada satu guci yang pecah, sehingga menampakkan kepingan emas yang ada di dalamnya.
Melihat hal itu, Tan Bun Ann menyesali perbuatannya dan menceburkan diri ke Sungai Musi. Siti Fatimah pun lalu ikut menceburkan diri sembari berkata “Bila suatu saat ada tanah yang tumbuh di tepian sungai ini, maka di situlah kuburan saya!”. Kalimatnya menjadi nyata dengan adanya Pulo Kemaro. Itulah legenda asal-usul Pulau Kemaro.
Bangunan yang dipercayai sebagai makam Siti Fatimah bergabung dalam satu komplek Klenteng Hok Tjing Rio di mana di dalamnya juga terdapat Dewa Bumi (Hok Tek Cin Sin), dewanya umat Budha. Di makam Siti Fatimah, para penziarah juga dapat melihat sejauh mana peruntungan yang di dapat di masa depan.
Kehadiran Klenteng Hok Tjing Rio dengan luas 3,5 hektar itu juga menjadi salah satu jejak sejarah Cina dalam perkembangan Palembang. Bangunan klenteng terdiri atas pendopo di tepi Sungai Musi, dua menara tempat pembakaran uang emas, ruang utama, ruang belakang, dan ruang keramat kuburan pasangan Siti Fatimah dan Tan Bun An.
Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa Pulau Kemaro menghadirkan dua unsur keyakinan berbeda namun tetap berjalan berkesinambungan. “Siti Fatimah ini muslim, dan di dalamnya ada altar persembahan untuk Dewa Bumi yang diyakini oleh umat Budha. Berdampingannya dua keyakinan dalam satu komplek di Pulau Kemaro ini membuktikan bahwa bersatunya umat Budha dan Islam membawa keselarasan dalam kehidupan, karena keyakinan adalah mutlak hubungannya antara manusia dengan Sang Pencipta. Akulturasi perlu terus dikenang untuk menanamkan semangat toleransi dan kerja sama bagi generasi baru,” terang Linda, salah satu penjaga di Pulo Kemaro.
Menurut saya, Pulo Kemaro yang total wilayahnya 24 hektar ini layak menjadi ikon wisata budaya dan wisata keagamaan. Tidak hanya untuk kawasan nasional, tetapi juga internasional. Sekaligus menjadi saksi nyata idealisme Pancasila yang menjadi landasan Negara Indonesia tercinta.
Setelah puas berkeliling dan mengabadikan tempat bersejarah ini, kami pun meninggalkan pulau. Dalam perjalanan pulang, kembali kami menikmati kehidupan sungai yang sangat dinamis. Dalam hati, saya mengakui bahwa akulturasi yang begitu kuat dalam legenda Pulo Kemaro merupakan konsekuensi logis dari budaya maritim bangsa Indonesia yang sudah terkenal sejak zaman nenek moyang. Budaya ini pulalah yang membentuk karakter bangsa Indonesia sebagai bangsa yang terbuka dan tangguh. Terbuka pada perbedaan, dan bahkan menjadikan perbedaan tersebut menjadi kekayaan untuk maju.
- See more at: http://jelajahbumipapua.com/home.php?link=content-detail-tulis&kode=135&jdl=Wisata.ini.Padukan.Akulturasi.dan.Semangat.Maritim#sthash.SlU36nRa.dpuf
Angin
berhembus kencang menghapus rasa panas di kulit, karena terpaan terik
mentari. Debu menyeruak tiap kali kaki melangkah di pelataran Benteng
Kuto Besak, yang sekaligus menjadi tepian Sungai Musi, Palembang,
Sumatera Selatan. Memang, sudah beberapa hari itu Palembang mengerontang
ditinggal gemercik hujan.
Kami ingin pergi ke Pulo Kemaro. Sebuah tempat wisata yang cukup tersohor di Bumi Sriwijaya ini. Dengan dahi mengrenyit menahan panas, kami bertanya kepada beberapa laki-laki nelayan di bibir sungai tentang keberadaan perahu sewaan.
Perahu atau penduduk setempat menyebutnya ketek, menjadi transportasi utama untuk mencapai tempat yang berupa pulau di sebelah timur Kota Palembang atau sekitar lima kilo meter sebelah hilir Jembatan Ampera itu.
Naik ketek dengan mesin tempel menjadi bagian perjalan hidup yang tidak terlupakan. Sejauh ini, kami tidak pernah membayangkan bisa melewati bagian bawah Jembatan Ampera yang menjadi icon Kota Palembang. Tidak hanya itu, dengan ketek pula kami menjumpai berbagai aktivitas warga di sepanjang aliran Sungai Musi. Misalnya, ada yang berniaga dengan kapal-kapal besar, berjumpa dengan warga yang menambang pasir, aktivitas pelabuhan barang, dan yang menarik adalah ketika berpapasan dengan perahu cepat. Ombak yang mereka timbulkan membuat ketek kami berayun-ayun, bahkan sempat melontarkan pantat kami dari sepotong papan yang menjadi landasan duduk.
Pulo Kemaro sangat mudah dikenali. Dari kejauhan, setelah melakukan perjalanan 30 menit, di tengah rerimbunan pohon tampak bangunan Pagoda setinggi 9 tingkat bercat mayoritas merah dan kuning. Dua warna yang lekat dengan budaya Tionghoa.
Kata “kemaro” sendiri dalam bahasa Indonesia berarti kemarau. Dinamakan Pulo Kemaro atau Pulau Kemarau karena pulau ini tidak pernah digenangi air walaupun volume air di sungai Musi sedang meningkat.
Di bagian depan pulau ada bangunan gedung yang merupakan Klenteng tempat sembahyang umat Budha. Klenteng yang dibangun sejak 1962 itu awalnya hanya berupa bangunan Klenteng Soei Goeat Kiong (atau yang lebih dikenal dengan Klenteng Kuan Im). Bangunan Pagoda berlantai 9 itu baru mulai dibangun tahun 2006. Di depan klenteng terdapat pula makam Tan Bun An dan Siti Fatimah yang berdampingan. Kisah cinta mereka berdualah yang menjadi legenda terbentuknya pulau ini.
Sebuah Legenda
Pada satu kisah, seorang putri Palembang Siti Fatimah terlibat kisah cinta dengan anak seorang putra raja di Cina bernama Tan Bun Ann. Tan Bun Ann yang terperdaya oleh kecantikan sang putri mengajukan niat untuk melamar Siti Fatimah. Ayah Siti Fatimah, seorang raja di Sriwijaya, mengajukan syarat kepada Tan Bun Ann untuk menyediakan sembilan guci berisi emas. Keluarga Tan Bun Ann bersedia menerima syarat itu, maka disediakanlah sembilan guci berisi emas.
Karena khawatir akan ancaman perompak, tanpa sepengetahuan Tan Bun Ann, keluarganya menaruh sayur-mayur di atas emas-emas di dalam guci itu. Sesampainya di Sriwijaya, ketika akan menyerahkan kesembilan guci tersebut Tan Bun Ann memeriksa isinya. Betapa terkejut dan marahnya dia ketika melihat isi guci tersebut adalah sayur-mayur. Tanpa memeriksa lebih dahulu, guci-guci tersebut dilemparkan ke Sungai Musi. Ketika guci-guci tersebut dilemparkan, ada satu guci yang pecah, sehingga menampakkan kepingan emas yang ada di dalamnya.
Melihat hal itu, Tan Bun Ann menyesali perbuatannya dan menceburkan diri ke Sungai Musi. Siti Fatimah pun lalu ikut menceburkan diri sembari berkata “Bila suatu saat ada tanah yang tumbuh di tepian sungai ini, maka di situlah kuburan saya!”. Kalimatnya menjadi nyata dengan adanya Pulo Kemaro. Itulah legenda asal-usul Pulau Kemaro.
Bangunan yang dipercayai sebagai makam Siti Fatimah bergabung dalam satu komplek Klenteng Hok Tjing Rio di mana di dalamnya juga terdapat Dewa Bumi (Hok Tek Cin Sin), dewanya umat Budha. Di makam Siti Fatimah, para penziarah juga dapat melihat sejauh mana peruntungan yang di dapat di masa depan.
Kehadiran Klenteng Hok Tjing Rio dengan luas 3,5 hektar itu juga menjadi salah satu jejak sejarah Cina dalam perkembangan Palembang. Bangunan klenteng terdiri atas pendopo di tepi Sungai Musi, dua menara tempat pembakaran uang emas, ruang utama, ruang belakang, dan ruang keramat kuburan pasangan Siti Fatimah dan Tan Bun An.
Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa Pulau Kemaro menghadirkan dua unsur keyakinan berbeda namun tetap berjalan berkesinambungan. “Siti Fatimah ini muslim, dan di dalamnya ada altar persembahan untuk Dewa Bumi yang diyakini oleh umat Budha. Berdampingannya dua keyakinan dalam satu komplek di Pulau Kemaro ini membuktikan bahwa bersatunya umat Budha dan Islam membawa keselarasan dalam kehidupan, karena keyakinan adalah mutlak hubungannya antara manusia dengan Sang Pencipta. Akulturasi perlu terus dikenang untuk menanamkan semangat toleransi dan kerja sama bagi generasi baru,” terang Linda, salah satu penjaga di Pulo Kemaro.
Menurut saya, Pulo Kemaro yang total wilayahnya 24 hektar ini layak menjadi ikon wisata budaya dan wisata keagamaan. Tidak hanya untuk kawasan nasional, tetapi juga internasional. Sekaligus menjadi saksi nyata idealisme Pancasila yang menjadi landasan Negara Indonesia tercinta.
Setelah puas berkeliling dan mengabadikan tempat bersejarah ini, kami pun meninggalkan pulau. Dalam perjalanan pulang, kembali kami menikmati kehidupan sungai yang sangat dinamis. Dalam hati, saya mengakui bahwa akulturasi yang begitu kuat dalam legenda Pulo Kemaro merupakan konsekuensi logis dari budaya maritim bangsa Indonesia yang sudah terkenal sejak zaman nenek moyang. Budaya ini pulalah yang membentuk karakter bangsa Indonesia sebagai bangsa yang terbuka dan tangguh. Terbuka pada perbedaan, dan bahkan menjadikan perbedaan tersebut menjadi kekayaan untuk maju.
- See more at: http://jelajahbumipapua.com/home.php?link=content-detail-tulis&kode=135&jdl=Wisata.ini.Padukan.Akulturasi.dan.Semangat.Maritim#sthash.SlU36nRa.dpuf
Kami ingin pergi ke Pulo Kemaro. Sebuah tempat wisata yang cukup tersohor di Bumi Sriwijaya ini. Dengan dahi mengrenyit menahan panas, kami bertanya kepada beberapa laki-laki nelayan di bibir sungai tentang keberadaan perahu sewaan.
Perahu atau penduduk setempat menyebutnya ketek, menjadi transportasi utama untuk mencapai tempat yang berupa pulau di sebelah timur Kota Palembang atau sekitar lima kilo meter sebelah hilir Jembatan Ampera itu.
Naik ketek dengan mesin tempel menjadi bagian perjalan hidup yang tidak terlupakan. Sejauh ini, kami tidak pernah membayangkan bisa melewati bagian bawah Jembatan Ampera yang menjadi icon Kota Palembang. Tidak hanya itu, dengan ketek pula kami menjumpai berbagai aktivitas warga di sepanjang aliran Sungai Musi. Misalnya, ada yang berniaga dengan kapal-kapal besar, berjumpa dengan warga yang menambang pasir, aktivitas pelabuhan barang, dan yang menarik adalah ketika berpapasan dengan perahu cepat. Ombak yang mereka timbulkan membuat ketek kami berayun-ayun, bahkan sempat melontarkan pantat kami dari sepotong papan yang menjadi landasan duduk.
Pulo Kemaro sangat mudah dikenali. Dari kejauhan, setelah melakukan perjalanan 30 menit, di tengah rerimbunan pohon tampak bangunan Pagoda setinggi 9 tingkat bercat mayoritas merah dan kuning. Dua warna yang lekat dengan budaya Tionghoa.
Kata “kemaro” sendiri dalam bahasa Indonesia berarti kemarau. Dinamakan Pulo Kemaro atau Pulau Kemarau karena pulau ini tidak pernah digenangi air walaupun volume air di sungai Musi sedang meningkat.
Di bagian depan pulau ada bangunan gedung yang merupakan Klenteng tempat sembahyang umat Budha. Klenteng yang dibangun sejak 1962 itu awalnya hanya berupa bangunan Klenteng Soei Goeat Kiong (atau yang lebih dikenal dengan Klenteng Kuan Im). Bangunan Pagoda berlantai 9 itu baru mulai dibangun tahun 2006. Di depan klenteng terdapat pula makam Tan Bun An dan Siti Fatimah yang berdampingan. Kisah cinta mereka berdualah yang menjadi legenda terbentuknya pulau ini.
Sebuah Legenda
Pada satu kisah, seorang putri Palembang Siti Fatimah terlibat kisah cinta dengan anak seorang putra raja di Cina bernama Tan Bun Ann. Tan Bun Ann yang terperdaya oleh kecantikan sang putri mengajukan niat untuk melamar Siti Fatimah. Ayah Siti Fatimah, seorang raja di Sriwijaya, mengajukan syarat kepada Tan Bun Ann untuk menyediakan sembilan guci berisi emas. Keluarga Tan Bun Ann bersedia menerima syarat itu, maka disediakanlah sembilan guci berisi emas.
Karena khawatir akan ancaman perompak, tanpa sepengetahuan Tan Bun Ann, keluarganya menaruh sayur-mayur di atas emas-emas di dalam guci itu. Sesampainya di Sriwijaya, ketika akan menyerahkan kesembilan guci tersebut Tan Bun Ann memeriksa isinya. Betapa terkejut dan marahnya dia ketika melihat isi guci tersebut adalah sayur-mayur. Tanpa memeriksa lebih dahulu, guci-guci tersebut dilemparkan ke Sungai Musi. Ketika guci-guci tersebut dilemparkan, ada satu guci yang pecah, sehingga menampakkan kepingan emas yang ada di dalamnya.
Melihat hal itu, Tan Bun Ann menyesali perbuatannya dan menceburkan diri ke Sungai Musi. Siti Fatimah pun lalu ikut menceburkan diri sembari berkata “Bila suatu saat ada tanah yang tumbuh di tepian sungai ini, maka di situlah kuburan saya!”. Kalimatnya menjadi nyata dengan adanya Pulo Kemaro. Itulah legenda asal-usul Pulau Kemaro.
Bangunan yang dipercayai sebagai makam Siti Fatimah bergabung dalam satu komplek Klenteng Hok Tjing Rio di mana di dalamnya juga terdapat Dewa Bumi (Hok Tek Cin Sin), dewanya umat Budha. Di makam Siti Fatimah, para penziarah juga dapat melihat sejauh mana peruntungan yang di dapat di masa depan.
Kehadiran Klenteng Hok Tjing Rio dengan luas 3,5 hektar itu juga menjadi salah satu jejak sejarah Cina dalam perkembangan Palembang. Bangunan klenteng terdiri atas pendopo di tepi Sungai Musi, dua menara tempat pembakaran uang emas, ruang utama, ruang belakang, dan ruang keramat kuburan pasangan Siti Fatimah dan Tan Bun An.
Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa Pulau Kemaro menghadirkan dua unsur keyakinan berbeda namun tetap berjalan berkesinambungan. “Siti Fatimah ini muslim, dan di dalamnya ada altar persembahan untuk Dewa Bumi yang diyakini oleh umat Budha. Berdampingannya dua keyakinan dalam satu komplek di Pulau Kemaro ini membuktikan bahwa bersatunya umat Budha dan Islam membawa keselarasan dalam kehidupan, karena keyakinan adalah mutlak hubungannya antara manusia dengan Sang Pencipta. Akulturasi perlu terus dikenang untuk menanamkan semangat toleransi dan kerja sama bagi generasi baru,” terang Linda, salah satu penjaga di Pulo Kemaro.
Menurut saya, Pulo Kemaro yang total wilayahnya 24 hektar ini layak menjadi ikon wisata budaya dan wisata keagamaan. Tidak hanya untuk kawasan nasional, tetapi juga internasional. Sekaligus menjadi saksi nyata idealisme Pancasila yang menjadi landasan Negara Indonesia tercinta.
Setelah puas berkeliling dan mengabadikan tempat bersejarah ini, kami pun meninggalkan pulau. Dalam perjalanan pulang, kembali kami menikmati kehidupan sungai yang sangat dinamis. Dalam hati, saya mengakui bahwa akulturasi yang begitu kuat dalam legenda Pulo Kemaro merupakan konsekuensi logis dari budaya maritim bangsa Indonesia yang sudah terkenal sejak zaman nenek moyang. Budaya ini pulalah yang membentuk karakter bangsa Indonesia sebagai bangsa yang terbuka dan tangguh. Terbuka pada perbedaan, dan bahkan menjadikan perbedaan tersebut menjadi kekayaan untuk maju.
- See more at: http://jelajahbumipapua.com/home.php?link=content-detail-tulis&kode=135&jdl=Wisata.ini.Padukan.Akulturasi.dan.Semangat.Maritim#sthash.SlU36nRa.dpuf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar