Rabu, 19 Juni 2013

Perokok ikut Demo BBM itu Konyol. Loh, Kok?

Judul di atas tampak begitu provokatif. Saya juga awalnya merasa demikian. Tetapi setelah dipikirkan secara mendalam, ternyata ada kesalahan berpikir dalam menyikapi kenaikan BBM. Ada yang luput dari perhatian pengamat dan pencari angle berita.

Rencana kenaikan BBM disikapi dengan sangat beragam. Satu yang paling mencolok adalah penolakan yang diekspresikan dengan menggelar demo besar-besaran. Para wakil rakyat di DPR pun riuh gaduh. Padahal, menurut saya kenaikan BBM itu tidak lebih dari masalah manajemen keuangan pribadi atau manajemen keuangan keluarga. Janganlah kita berpikir terlalu WAH, kalau soal BBM itu menyangkut APBN, menyangkut nasib perekonomian negara, menyangkut nasib ratusan juta masyarakat Indonesia.

Sekali lagi, BBM tidak lebih dari soal urusan anggaran rumah tangga. Kenapa? Karena BBM merupakan salah satu item dari sekian item pengeluaran rumah tangga, pengeluaran pribadi. Artinya, kenaikan BBM harusnya membuat kita masing-masing pribadi mengevaluasi pendapatan dan pengeluaran kita. Kita harus berani jujur dalam melihat item pengeluaran kita selain BBM. Apakah pengeluaran-pengeluaran itu sudah proporsional jika dibandingkan dengan pendapatan.

Dalam hal ini, saya secara khusus mau mengajak melihat secara head to head antara kebutuhan BBM dengan "kebutuhan" rokok. Secara sadar untuk rokok kata kebutuhan saya kasih tanda petik, karena bagi saya rokok bukan kebutuhan. Tanpa BBM kita tidak bisa beraktifitas, sehingga BBM dibutuhkan. Namun, apakah tanpa rokok kita tidak bisa beraktifitas? Tentu masih sangat bisa!

Dilihat dari tingkat kebutuhan tentulah BBM jauh di atas rokok. Secara logika, orang akan lebih memprioritaskan untuk alokasi dana kepada kebutuhan yang paling penting, lalu secara berurutan sampai pada kebutuhan yang bisa dikatakan kurang penting. Namun, yang terjadi justru kebanyakan orang khususnya perokok yang jumlahnya sangat banyak lebih rela mengeluarkan uang untuk rokok daripada BBM.

Ironisnya, berdasarkan penelitian para perokok dari kalangan menengah ke bawah lebih memprioritaskan rokok ketimbang membeli beras dan susu anaknya. "Para kepala keluarga miskin yang perokok aktif itu ternyata sebesar 22 persen pengeluaran mingguannya digunakan untuk membeli rokok. Prosentase pembelian rokok dari kepala keluarga miskin itu ternyata porsinya melampaui pembelian beras yang hanya sekitar 19 persen," (http://vlog.viva.co.id/news/read/56258-orang_miskin_pilih_beli_rokok_daripada_beras).

Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat harga rokok dan bensin. Untuk saat ini harga rokok per bungkus sudah di atas Rp.10.000. Tapi mari kita pukul rata saja di harga Rp.10.000. Umumnya, orang merokok sehari satu bungkus. Artinya dalam satu hari dia menghabiskan Rp.10.000 untuk rokok. Padahal uang dengan jumlah tersebut, berdasarkan pengalaman saya, kalau untuk beli bensin bisa untuk 3 hari. Jika membeli bensin non subsidi maka 10.000 untuk satu hari.

Dalam perjalanan perekonomian bangsa, harga rokok tidak pernah turun. Harganya terus melambung seiring dengan peningkatan cukai rokok. Tetapi, apakah ada demo yang menolak kenaikan rokok? Tetapi, ketika harga BBM naik sedikit dengan periode kenaikan yang panjang, orang sudah kalap. Yang menurut saya konyol, orang demo kenaikan BBM tapi sepanjang demo mereka merokok. Ada apa ini sebenarnya?

Fenomena ini di mata saya menggambarkan bagaimana kita lebih rela "membakar uang" untuk rokok ketimbang untuk BBM, atau bahkan kebutuhan pokok. Fenomena ini juga menunjukkan tata kelola keuangan kita masih harus ditingkatkan lagi untuk menakar, mana yang menjadi prioritas mana yang tidak. Eemmm..apakah juga bisa dikatakan, "Saya ikut demo menolak kenaikan BBM supaya saya tetap bisa beli rokok. Kan kalau BBM naik 'jatah' saya beli rokok jadi kepotong!"

Kalau di awal saya mengatakan bahwa kenaikan BBM itu soal manajemen anggaran keluarga, maka kompensasi BBM pun tidak usah berpikir jauh sampai BLSM (Bantuan Langsung Sementara Masyarakat). Karena, kompensasi BBM juga tidak jauh dari urusan anggaran rumah tangga. Di saat BBM baik, buatlah kompensasi sendiri yakni dengan mengalihkan pengeluaran yang kurang perlu untuk kebutuhan pokok. Karena rokok dinilai tidak menjadi prioritas dalam rumah tangga, alihkanlah sebagian (besar) dana rokok untuk kebutuhan yang jauh lebih penting, seperti membeli BBM, membeli beras, dan makanan yang bergizi lengkap.

Semoga bisa memberi perspektif lain dari fenomena kenaikan BBM yang lagi santer diwartakan seluruh media




 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar